Kamis, 19 Mar 2020 15:00 WIB

Para Pakar Menerka-nerka Kemungkinan Akhir dari Wabah Corona, Ini Hasilnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi corona Pakar menerka-nerka akhir dari wabah virus corona. (Foto: ilustrasi corona)
Jakarta -

Virus corona sudah menginfeksi lebih dari 200 ribu orang di seluruh dunia. Namun menurut pakar ada beragam kemungkinan terkait akhir dari wabah corona.

Bagaimana penjelasannya? simak ulasan berikut.

Sama Seperti Flu, Menjadi Penyakit Musiman

Amesh Adalja, seorang ahli penyakit menular di Johns Hopkins Center for Health Security menjelaskan wabah corona bisa saja usai menjadi virus musiman seperti flu. Artinya, ia bisa pergi di musim panas dan kembali lagi di musim gugur dan musim dingin di setiap tahun.

"Jika Anda melihat lintasan virus dan bagaimana penyebarannya di masyarakat, ditambah dengan fakta bahwa kita berurusan dengan virus corona setiap tahun selama flu dan musim dingin, faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa coronavirus COVID-19 ini menjadi virus musiman," kata Adalja, dikutip dari Business Insider pada Kamis (19/3/2020).

Wabah Menghilang atau Muncul dengan Kasus yang Lebih Sedikit

Menurutnya, virus corona baru ini juga disebut serupa dengan SARS. Keduanya disebut berasal dari kelelawar dan menular dari hewan ke manusia.

Adalja menjelaskan penyebaran SARS saat itu dibatasi melalui karantina, pembatasan perjalanan, dan kampanye informasi publik. Langkah pencegahan yang sama saat ini dilakukan untuk mengatasi penyebaran virus corona baru di berbagai negara.

Jika upaya-upaya ini berhasil, dan membuat kasus yang terinfeksi corona menurun, menurut Stephen Morse, seorang ahli epidemiologi di Universitas Columbia, wabah ini akan menghilang. Kemungkinan lain bisa menjadi seperti Zika dan H1N1. Di mana virus masih beredar, namun orang-orang yang terinfeksi jauh lebih sedikit.

Beberapa vaksin virus corona, salah satunya vaksin yang dikembangkan Modena. Anthony Fauci, direktur divisi penyakit menular National Institutes of Health, mengatakan kepada The Wall Street Journal kalau vaksin akan segera rampung dalam waktu dekat.

Namun, ahli epidemologi, Morse meyakini proses pengembangan vaksin umumnya memiliki waktu yang lebih lama. "Tidak ada yang pernah berjalan secepat itu," pungkasnya.



Simak Video "Pfizer Uji Klinis Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 5-11 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)