Jumat, 20 Mar 2020 10:40 WIB

Pertama Kalinya, Episentrum Corona di Hubei Tak Temukan Kasus Baru COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Wabah virus corona turut berdampak di sektor perekonomian China. Salah satu negara adidaya dunia itu kini berjuang untuk bertahan dari serangan virus tersebut. China disebut mulai bisa mengendalikan wabah virus corona. (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

Untuk pertama kalinya sejak wabah virus corona terjadi, China melaporkan tidak ada transmisi lokal baru COVID-19. Bahkan di Hubei, episentrum pertama virus corona, melaporkan tidak ada kenaikan kasus dalam bentuk apapun sejak Rabu (18/3).

Para pejabat di Wuhan, Hubei, telah melonggarkan pembatasan dan memungkinkan orang-orang di kompleks perumahan yang dianggap 'bebas corona' untuk meninggalkan rumah dan boleh melakukan kegiatan pribadi baik secara individu maupun kelompok di tempat tertentu. Mengutip Bloomberg, Otoritas China menambahkan ada 5,600 area perumahan atau sekitar 78 persen area permukiman di kota telah bebas virus.

Sebulan lalu, Hubei berada di posisi yang sangat krisis mengingat terjadi lonjakan hingga ribuan kasus tiap harinya. Sejak Desember lalu, tercatat lebih dari 67 ribu orang dengan virus corona COVID-19 dan 3 ribu di antaranya meninggal dunia.

Meski angka infeksi dan penularan di Hubei telah berkurang menjadi nol kasus, China menghadapi kekhawatiran lain karena kasus impor terus menambah jumlah kasus di negara tersebut. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 34 kasus baru pada 18 Maret yang tercatat merupakan imported cases.

Walaupun kasus di China terbilang menurun, seluruh dunia saat ini dikhawatirkan dengan adanya second wave atau penularan kasus di negara lain yang berasal dari imported cases. Para ahli menyebut Korea Selatan, China, dan Singapura adalah beberapa negara di Asia yang menghadapi gelombang kedua virus corona.

Saat ini di Indonesia sendiri kasus virus corona telah menyentuh angka 309 pasien yang tersebar di berbagai wilayah. Untuk menekan kelonjakan kasus, pemerintah berencana untuk melakukan skrining massal dengan rapid test.



Simak Video "WHO Belum Bisa Prediksi Penyebaran COVID-19 ke Depannya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)