Jumat, 20 Mar 2020 11:10 WIB

Manfaat Vitamin D, Bisa Tingkatkan Imun buat Cegah Virus Corona

Abu Ubaidillah - detikHealth
Vitamin Foto: shutterstock
Jakarta -

Semakin hari, jumlah masyarakat Indonesia yang positif terinfeksi virus Corona (Covid-19) terus bertambah. Pemerintah pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah perluasan penyebaran virus Covid-19.

Menjaga daya tahan tubuh, mencuci tangan selama 20 detik, menjaga jarak 1 meter dari orang yang batuk, bersin, atau demam, serta menutup hidung dan mulut dengan tisu atau siku ketika batuk dan bersin adalah beberapa cara yang bisa dilakukan. Khusus untuk menjaga daya tahan tubuh, diperlukan nutrisi yang baik agar tubuh tetap optimal.

Selain untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, vitamin D juga berperan menjaga sistem imun untuk mencegah infeksi virus dan bakteri. Berdasarkan penelitian pada tahun 2014 yang melibatkan 11.321 orang dari berbagai usia di 15 negara, pemberian suplementasi vitamin D mampu menurunkan risiko infeksi saluran nafas akut seperti batuk, pilek, flu, atau infeksi paru-paru.

Untuk mendapatkan vitamin D sesuai kebutuhan tubuh, dengan paparan sinar matahari dan makanan saja tidak cukup, buktinya adalah meskipun Indonesia termasuk negara tropis yang kaya sinar matahari, ternyata berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, banyak di antara kita yang masih kekurangan vitamin D.

Secara umum, sebanyak 80% orang Indonesia kekurangan vitamin D dan kekurangan vitamin D ini dapat dialami oleh berbagai usia dan bahkan ibu hamil. Berdasarkan penelitian, di Medan terdapat 95% wanita dewasa yang mengalami kekurangan vitamin D. Sebanyak 82,8% ibu hamil di Sumatera Barat juga mengalami kekurangan vitamin D. Sedangkan anak-anak rentang usia 2-4,9 tahun yang mengalami kekurangan vitamin D sebanyak 42,8% di desa dan 34,9% di kota. Dari hasil pemeriksaan genetik, 6 dari 7 orang Indonesia (dari total 2.000 orang yang diperiksa) berisiko kekurangan vitamin D yang dipengaruhi oleh variasi genetik.

Masalah lain muncul ketika masyarakat Indonesia kurang terpapar sinar matahari karena lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan di pagi dan siang hari. Selain itu juga menggunakan tabir surya atau pakaian tertutup ketika berada di luar ruangan, serta kurang asupan vitamin D dari makanan khususnya vegetarian, pemenuhan akan vitamin D tentu akan semakin sulit dicapai.

Sayangnya, gejala kekurangan vitamin D, tidak spesifik dan akan 'mengganggu' bila terjadi dalam jangka waktu yang lama sehingga tidak banyak yang menyadarinya. Gejala yang dapat dirasakan akibat kekurangan vitamin D seperti nyeri punggung bawah, panggul, atau kaki, otot terasa lemah dan nyeri, sulit tidur, mudah lelah dan sakit, gangguan mood, depresi, nyeri sendi, sakit kepala, dan rambut rontok.

Selain itu, kekurangan vitamin D dapat mengganggu sistem imun, meningkatkan risiko terjadinya rakitis pada anak atau lunaknya tulang sehingga mudah patah atau berubah bentuk pada orang dewasa. Kemudian juga dapat meningkatkan risiko tulang keropos (osteoporosis), penyakit autoimun, penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, saluran pernapasan, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, perlu adanya pemeriksaan apakah kadar vitamin D kita sudah cukup atau belum, seperti di laboratorium klinik di mana sampel darah akan diambil dan diukur kadar 25-hydroxyvitamin D atau 25(OH)D. Seseorang akan dikatakan cukup apabila mencapai atau lebih dari 30 ng/mL.

Pemeriksaan kadar vitamin D juga dapat dilaksanakan di laboratorium klinik terakreditasi seperti KalGen Innolab. Memeriksa kadar vitamin D setidaknya dilakukan 3-6 bulan sekali. Apabila ada indikasi kekurangan vitamin D, segera penuhi dengan mengonsumsi vitamin D yang dapat dibeli di apotek terdekat atau secara online. Pastikan membeli vitamin D yang terdaftar di BPOM dan hindari produk palsu yang dijual murah tanpa adanya label dari BPOM.



Simak Video "Disebut Mampu Bunuh Corona, Berikut Penjelasan Soal Manfaat Berjemur"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)