Jumat, 20 Mar 2020 14:35 WIB

Kelebihan Vs Kelemahan Rapid Test Kit untuk Screening Massal Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Corona Indonesia mulai tambah alat rapid test untuk deteksi virus corona. (Foto: Ilustrator: Fuad Hasim)
Jakarta -

Indonesia mulai mendatangkan alat rapid test untuk menghadapi wabah virus corona COVID-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri dan Gugus Tugas COVID-19 segera melakukan rapid test ini untuk mendeteksi virus corona dengan cakupan lebih besar.

"Kedua, segera lakukan rapid test, tes cepat dengan cakupan lebih besar agar deteksi dini kemungkinan indikasi awal seseorang terpapar COVID-19 bisa dilakukan," kata Jokowi dalam ratas yang disiarkan langsung lewat akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (19/3/2020).

Untuk mengecek status infeksi corona, biasanya metode yang digunakan selama ini adalah real time polymerase chain reaction (RT-PCR). Lewat cara tersebut peneliti di laboratorium akan melihat jejak genetik virus di dalam sampel swab saluran napas.

Sementara itu alat rapid test bekerja menggunakan sampel darah. Apa saja kelebihan dan kelemahan rapid test ini? Berikut rangkumannya:

1. Kelebihan

Virus corona tidak hidup di darah, tetapi seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah yang kemudian dideteksi dengan rapid test.

Sederhananya rapid test bisa mendeteksi apakah seseorang pernah terpapar atau tidak.

Rapid test punya kelebihan lebih mungkin dilakukan secara massal karena tidak membutuhkan pemeriksaan di laboratorium biosecurity level II. Hampir semua laboratorium kesehatan di Indonesia bisa melakukannya.

Hasil dari rapid test juga bisa didapatkan dengan cepat, hanya sekitar 20 menit.

"Untuk skrining di bandara misalnya, rapid diagnostik cukup menjanjikan karena hanya 20 menit," kata Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, Principal Investigator dari Stem-cell and Cancer Research Institute.

2. Kelemahan

Pemeriksaan dengan rapid test memiliki kelemahannya sendiri. Ini karena tes bisa memberikan hasil 'false negative' yakni tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi bila tes dilakukan pada fase yang tidak tepat.

Ahmad menjelaskan Sistem imun menurut membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk mulai memproduksi antibodi. Artinya bila seseorang yang terinfeksi corona dites sebelum antibodi terbentuk, maka hasil yang akan keluar adalah negatif.

Dalam jurnal berjudul 'Antibody responses to SARS-CoV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019', Ahmad mengatakan sensitivitas rapid test serologi sekitar 36 persen dari 100 kasus COVID-19.

"Sensitivitas tes serologi itu sekitar 36 persen, kalau tidak salah. Jadi dari 100 kasus yang terkonfirmasi COVID-19 dia bisa mendeteksi sekitar 30. Jadi itu harus hati-hati," kata Ahmad.



Simak Video "Jangan Terkecoh! Lembaga Eijkman Bukan Tempat Tes Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)