Jumat, 20 Mar 2020 18:16 WIB

4 Fakta Rapid Test Corona yang Dipakai Jokowi untuk Screening Massal

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
WHO resmi menamai virus Corona yang menewaskan 1.115 orang. Virus mematikan yang pertama kali diidentifikasi di China pada 31 Desember itu dinamai COVID-19. Ilustrasi virus corona COVID-19 (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia kian mengkhawatirkan. Berbagai macam upaya pun telah dilakukan oleh pemerintah untuk menangani penyebaran virus ini.

Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah menggunakan rapid test sebagai cara skrining virus corona secara massal di masyarakat. Rapid test dinilai lebih efektif dalam menjangkau masyarakat luas dan telah dipraktekan di beberapa negara di dunia.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini adalah 4 fakta tentang rapid test.

1. Dideteksi melalui antibodi

Selama ini pemeriksaan virus corona hanya menggunakan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-CPR). Pemeriksaan jenis ini menggunakan sampel lendir dari saluran pernapasan yang diambil melalui rongga hidung atau mulut dan nantinya akan diteliti di laboratorium untuk mengetahui hasilnya.

Berbeda dengan RT-CPR, rapid test menggunakan darah sebagai sampel. Meski virus corona tidak hidup dalam darah, seseorang yang terinfeksi umumnya akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah dideteksi dengan rapid test.

2. Hanya butuh waktu 20 menit

Hasil dari rapid tes juga bisa didapatkan dengan cepat yaitu hanya sekitar 20 menit.

"Untuk skrining di bandara misalnya, rapid diagnostik cukup menjanjikan karena hanya 20 menit," kata Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, Principal Investigator dari Stem-Cell and Cancer Research Institute.

3. Tingkat sensitivitas hanya 36 persen

Seseorang yang diperiksa menggunakan cara rapid test bisa memberikan hasil 'false negative' atau tampak negatif, meski sebenarnya positif.

Hal ini dikarenakan butuh waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk sistem imun membuat antibodi. Artinya bila seseorang yang terinfeksi virus corona dan dites sebelum antibodinya terbentuk, maka hasil yang keluar adalah negatif.

"Sensitivitas tes serologi itu sekitar 36 persen, kalau tidak salah. Jadi dari 100 kasus yang terkonfirmasi COVID-19 dia bisa mendeteksi sekitar 30. Jadi itu harus hati-hati," ucap Ahmad Rusdan Handoyo Utomo dalam jurnal berjudul 'Antibody Responses to SARS-COV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019'.

4. Jakarta Selatan menjadi yang pertama

Jakarta Selatan dipilih sebagai wilayah pertama pemberlakuan screening massal menggunakan rapid test di masyarakat.

"Mengenai rapid test, sudah dilakukan sore ini di wilayah yang dulu sudah ada kontak tracking dari pasien positif, dari itu datang dari rumah ke rumah. Ada prioritas dan ada wilayah prioritas paling parah yaitu Jakarta Selatan," kata Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers, Jumat (20/3/2020).



Simak Video "Prosedur Screening Massal dengan Rapid Test Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)