Selasa, 24 Mar 2020 05:33 WIB

Dibanding DPR, Dokter dan Perawat Lebih Butuh Tes Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor bersiap melakukan tes cepat (rapid test) pendeteksian COVID-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2020). Tes tersebut diperuntukan bagi peserta Seminar Anti Riba yang berlangsung di Babakan Madang Kabupaten Bogor pada 25-28 Februari 2020, dimana dua orang peserta seminar tersebut meninggal dunia di Solo Jawa Tengah akibat COVID-19. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww. Rapid test virus corona COVID-19 (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta -

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadillah, Skep, SH, MKep, menanggapi kontroversi tes corona untuk 2.000 lebih anggota DPR dan keluarganya. Menurutnya, prioritas rapid test virus corona lebih baik ditujukan terlebih dahulu pada tenaga medis.

"Perawat dulu lah, rasional dong," jelasnya saat dihubungi detikcom, Senin (23/3/2020).

Selain tenaga medis, menurutnya masyarakat juga perlu untuk didahulukan dalam rapid test. Hal ini berkaitan dengan pemetaan penyebaran kasus corona di Indonesia.

"Tenaga medis dulu, lalu masyarakat itu penting, supaya bisa memetakan penyebaran, sehingga bisa diantisipasi keberlanjutannya (kasus corona) itu," lanjutnya.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih SH, MH, pun mengatakan tenaga medis perlu didahulukan dalam melakukan rapid test.

"Mestinya begitu (tenaga medis dulu) kita prioritaskan sesuai indikasi, rapid test itu harus sesuai indikasi dari hasil pemeriksaan dokter juga," katanya.

Ia juga menjelaskan rapid test harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Tidak bisa begitu saja dilakukan.

"Kalau tidak ada indikasi, maka rapid test tidak bermakna, bisa mubazir," pungkasnya.



Simak Video "WHO Jelaskan 4 Situasi Terkait Penggunaan Rapid Test Antigen Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)