Miris! Kehabisan Tempat Tidur, Pasien Corona Spanyol Berbaring di Lorong RS

Miris! Kehabisan Tempat Tidur, Pasien Corona Spanyol Berbaring di Lorong RS

Ayunda Septiani - detikHealth
Selasa, 24 Mar 2020 12:30 WIB
Miris! Kehabisan Tempat Tidur, Pasien Corona Spanyol Berbaring di Lorong RS
Pasien virus corona di Spanyol menumpuk, banyak yang tak dapat tempat tidur di rumah sakit. (Foto: Screenshot Viral)
Jakarta -

Spanyol menjadi salah satu negara di Eropa yang terinfeksi virus corona. Madrid, menjadi kota terparah di Spanyol yang terkena dampak COVID-19. Tercatat terdapat 33.089 kasus, dan 2.206 orang meninggal dunia. Dengan angka kasus yang tinggi, pasien virus corona di Spanyol membludak.

Akibatnya, rumah sakit tak bisa lagi menampung pasien virus corona. Bahkan, banyak pasien yang terpaksa dirawat di lantai karena kehabisan tempat tidur. Belum lama ini viral sebuah tayangan video yang memperlihatkan pasien di rumah sakit yang berbaring di sepanjang lorong karena penuhnya ruang untuk perawatan.

Video yang diunggah tersebut berasal dari rumah sakit Infanta Leonor kota Madrid, Spanyol. Menunjukkan banyak peningkatan jumlah kematian di negara matador tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Independent, terdengar banyak pasien yang batuk, dan beberapa dari mereka terlihat duduk di deretan kursi, sementara yang lain berbaring di dekat tangki oksigen.

Lebih rinci lagi, video itu dipublikasikan juga sebagai pengantar berita bahwa korban tewas di Spanyol. Terlebih lagi, hampir 4.000 orang petugas kesehatan yang ikut dalam menangani masalah tersebut juga ikut terinfeksi COVID-19 atau lebih dari satu dari 10 total kasus yang dikonfirmasi.

ADVERTISEMENT

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kepala Darurat Kesehatan Spanyol, Fernando Simon. "Kami memiliki beberapa data yang tidak kami sukai, karena kami mencoba mengendalikannya seperti memiliki 3.910 pekerja kesehatan yang terkena dampak," jelas Simon.

Simon juga selalu mengimbau warga Spanyol yang saat ini masih dalam masa lockdown yang diperpanjang sampai 11 April untuk terus menghormati peraturan ini dan melarang siapa pun untuk berkeliaran.

"Dalam beberapa kesempatan dikatakan bahwa puncak (epidemi) dapat dicapai minggu ini. Mencapai puncak tidak melibatkan mengendalikan masalah, itu berarti kalian harus melipatgandakan upaya untuk tidak mengambil langkah mundur," tutur dia.




(kna/kna)

Berita Terkait