Selasa, 24 Mar 2020 14:31 WIB

600 Dokter di Perancis Tuntut Mantan Menkes karena Lamban Atasi Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Italia kini jadi pusat wabah corona. Negeri Pizza itu kini tengah berduka karena korban meninggal akibat virus tersebut tertinggi di dunia. Dokter di seluruh dunia berjibaku lawan virus corona. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Sekitar 600 dokter di Prancis yang tergabung dalam kolektif bernama C19, mengajukan tuntutan dan keluhan terhadap mantan Menteri Kesehatan Agnès Buzyn dan Perdana Menteri Édouard Philippe karena dianggap telah berbohong dalam pengelolaan krisis pandemi virus corona.

Surat kabar lokal, Le Figaro, menuliskan tuntutan lebih dari 600 dokter ini dikirim ke Pengadilan Kehakiman Republik, satu-satunya lembaga yang diberi wewenang untuk menilai tindakan yang dilakukan oleh anggota pemerintah dalam melaksanakan fungsi jabatan mereka.

Tiga perwakilan dokter dari kelompok tersebut mengajukan keluhan pada Kamis (19/3) terhadap mantan Menteri Kesehatan Agnès Buzyn dan Perdana Menteri Édouard Philippe. Gabungan tenaga kesehatan mengatakan pemerintah harusnya telah menyediakan masker, alat tes, dan bahan medis lain sesaat setelah informasi mengenai epidemi tersebut muncul, namun mereka tidak melakukan apapun.

Dilansir dari Europost, tuntutan ini akan terlebih dahulu dipertimbangkan oleh Komisi Khusus. Jika pengadilan menerima tuntutan, maka mantan Menteri Kesehatan Agnès Buzyn dan Perdana Menteri Édouard Philippe akan menghadapi hukuman penjara dua tahun dan denda sekitar Rp 500 juta.

Menteri Kesehatan yang baru, Olvier Veran, mengatakan pihak pemerintah telah memesan lebh dari 250 juta masker dan 86 juta di antaranya tersedia di gudang. "Saya memahami urgensi untuk menyalurkan masker kepada mereka yang merawat," katanya.

"Tanggung jawab saya sebagai menteri adalah memastikan segalanya dapat dikirimkan secara berkala. Namun meskipun saya tahu berapa lama stok bisa bertahan, saya tidak tahu berapa lama epidemi akan berlangsung," sambungnya.

Prancis saat ini tengah menghadapi kelangkaan masker FFP2, yang dianggap paling efektif dalam melindungi paparan virus corona. Padahal, menurut Direktorat Jenderal Kesehatan, Prancis memiliki kapasitas produksi enam juta masker per minggu.

Staf kesehatan di rumah sakit mengatakan mereka sangat membutuhkan masker kesehatan FFP2, yang dianggap jauh lebih protektif daripada masker bedah.

"Otoritas publik dan semua yang terlibat dalam jaringan produksi nasional harus bergabung untuk menyediakan 15 juta masker FFP2 yang kita butuhkan setiap hari," tulis beberapa dokter dan personel bedah lainnya dalam siaran pers.

"Negara mengandalkan kami untuk menghadapi pandemi ini tapi tidak dapat diterima jika kami harus menghadapi risiko sakit. Kami juga manusia, sama rentannya seperti orang lain," pungkasnya.



Simak Video "Geser China, AS Jadi Pusat Pandemi Virus Corona COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)