Rabu, 25 Mar 2020 20:44 WIB

Sederet Alasan Pria Lebih Rentan Meninggal Akibat Virus Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Virus corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Merokok, konsumsi alkohol dan kesehatan yang buruk disebut peneliti menjadi faktor utama yang dapat menjelaskan mengapa lebih banyak pria meninggal akibat virus corona daripada wanita. Di Italia, menurut National Health Institute, pria mewakili 60 persen pasien positif virus corona dan lebih dari 70 persen dari mereka meninggal.

Bahkan di Korea Selatan, meski proporsi perempuan yang positif virus corona lebih banyak, namun 54 persen kematian akibat virus corona di negara tersebut adalah pria.

"Sampai saat ini kita memang tidak tahu pasti mengapa COVID-19 terlihat lebih parah pada pria namun selain usia tua, laki-laki memang menjadi salah satu faktor risiko dari beberapa penyakit parah dan masyarakat harus sadar mengenai hal ini," sebut Profesor Sabra Klein, dari Universitas Johns Hopkins, mengutip Daily Mail.

Data dari Pusat Pengendalian Penyakit China juga menemukan 64 persen kematian ada pada pria. Lalu di Italia, peneliti yang mempublikasikan studi mereka dalam jurnal The Lancet menemukan rasio dari 827 kematian di Italia, 80 persen adalah pria selebihnya wanita.

Kesenjangan gender dalam penyakit dan kematian memang sulit untuk dijelaskan. Bahkan sebelum pandemi COVID-19 mencapai Italia, laporan awal di China terhadap 99 pasien di salah satu RS di Wuhan menemukan 2 di antara 3 pasien adalah pria dan setengahnya memiliki kondisi kronis seperti jantung atau diabetes.

Secara historis, coronavirus seperti SARS dan MERS cenderung mempengaruhi pria secara tidak proporsional. Menurut Dr Luis Ostrosky-Zeichner, spesialis penyakit menular di McGovern Medical School di UTHealth di Texas, selama epidemi sebelumnya, laki-laki dilaporkan memiliki hasil klinis yang lebih buruk karena SARS di Hong Kong. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi meninggal akibat MERS, dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Arab Saudi dan Korea Selatan.

Dari perspektif evolusi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita memiliki respon imun yang lebih kuat terhadap infeksi virus daripada pria. "Ini mungkin ada hubungannya dengan perubahan hormon," kata Ostrosky-Zeichner.

Selain itu, sangat jelas bahwa pria juga lebih banyak minum dan merokok. Data dari WHO menyebut di China, 48 persen pria di atas usia 15 tahun adalah perokok dan hanya 2 persen perokok wanita.



Simak Video "Geser China, AS Jadi Pusat Pandemi Virus Corona COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)