Selasa, 31 Mar 2020 13:04 WIB

Dokter Meninggal Setelah Konsumsi Obat Anti-Malaria untuk Cegah Virus Corona

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ilustrasi obat WHO mengimbau angan sembarangan menggunakan obat yang belum teruji. (Foto: iStock)
Jakarta -

Seorang dokter yang bekerja di rumah sakit swasta di Guwahati, Assam, India meninggal dunia diduga setelah mengkonsumsi obat anti-malaria hydroxychloroquine. Obat ini digunakan untuk perawatan pasien virus corona COVID-19 di beberapa negara, termasuk India.

Dikutip dari NDTV, dokter ahli anestesi yang diketahui bernama Utpaljit Barman (44) ini mengkonsumsi obat atas kemauannya sendiri untuk tindakan pencegahan COVID-19. Ia meninggal karena serangan jantung pada Sabtu lalu.

Sampai saat ini masih belum bisa dikonfirmasi apakah obat itu benar-benar bisa memicu serangan jantung. Tapi, berdasarkan pesan WhatsApp yang dikirim pada rekannya, ia mengatakan bahwa merasa tidak enak setelah minum obat tersebut.

Menurut Dewan Penelitian Medis India, obat tersebut memang direkomendasikan pada petugas kesehatan untuk penanganan virus corona. Namun, bukan untuk mencegah penyakit itu. ICMR juga mengingatkan bahwa obat itu tidak boleh digunakan sendiri untuk mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

Di China, hydroxychloroquine dan chloroquine phosphate memang digunakan untuk mengobati pasien virus corona. Tapi, bukan berarti mengkonsumsi obat itu tanpa anjuran bisa bantu mencegah infeksi.

Di Assam sendiri, belum ada kasus positif virus corona yang ditemukan. Sekretaris Kesehatan setempat, Samir Sinha, mengatakan Assam sudah melakukan lockdown selama 21 hari berdasarkan amanat dari Perdana Menteri Narendra Modi sebagai langkah pencegahan.

"Setelah lockdown, kami berfokus pada rangkaian tes dan persiapan untuk menghadapi wabah tersebut. Ini adalah dua faktor penting yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meskipun belum punya kasus positif, kami tetap berfokus pada skrining, pengujian, dan pengawasan," jelasnya.



Simak Video "WHO Laporkan Penambahan Kasus Tertinggi Sejak Wabah Corona Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)