Rabu, 01 Apr 2020 05:26 WIB

Butuh Waktu 8 Jam untuk Periksa Sampel Corona, Begini Tahapannya

Pradito Rida Pertana - detikHealth
tahapan pemeriksaan sampel corona Memeriksa sampel virus corona COVID-19 di BBTKLPP Yogyakarta (Foto: Pradito Rida Pertana/detikHealth)
Yogyakarta -

Meningkatnya kasus COVID-19 di DIY belum dibarengi dengan cepatnya pengujian sampel pasien dalam pengawasan (PDP). Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta menyebut satu kali proses pengujian paling cepat memerlukan waktu 8 jam, terlebih jumlah PDP terus meningkat.

Juru Bicara Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) untuk penanganan COVID-19, Berty Murtiningsih menjelaskan alur pengujian sampel bagi PDP. Menurutnya, pasien berstatus PDP dapat memeriksakan diri di Rumah Sakit (RS) mana saja.

"Pasien PDP diperiksa di RS mana saja, konsulkan ke RS rujukan, dengan dokter konsultan, bila perlu rawat bisa di RS Rujukan, bisa tidak tergantung kondisi.Bahkan bisa pula PDP isolasi mandiri," katanya melalui pesan singkat kepada detikcom, Selasa (31/3/2020).

Setelah ditetapkan sebagai PDP, nantinya petugas medis akan mengambil swab pasien untuk selanjutnya diuji di BBTKLPP Yogyakarta. Proses tersebut membutuhkan waktu tang tidak sebentar.

"Swab diambil di RS, lalu dikirim ke BBTKLPP Yogyakarta. Jadi kalau pasien diambil swab, maka spesimennya disimpan dalam VTM (Virus Transport Media), baru dikirim ke laboratorium (BBTKLPP Yogyakarta)," katanya.

"Prosesnya 3 sampai dengan 5 hari tergantung ketersediaan reagen dan VTM di lab (BBTKLPP)," ucapnya.

Karena itu, Berty menyebut proses pengujian sampel PDP dari nol hingga keluar hasilnya memerlukan cukup waktu. Apalagi, BBTKLPP Yogyakarta tidak hanya melayani pengujian sampel dari DIY.

"Di samping DIY, laboratorium BBTKLPP kan juga menangani sampel seluruh Jateng," ujarnya.

1. Pengambilan 4 macam sampel

Sementara itu, Kepala BBTKLPP Yogyakarta, Dr. dr. Irene menjelaskan secara rinci bagaimana proses pengujian sampel PDP hingga muncul hasil pasien positif atau negatif. Irene menyebut, setiap PDP menjalani pengambilan 4 macam sampel.

"Pertama sampelnya dulu ya, jadi pasien kalau PDP itu misalnya di RS itu kita ambil sampelnya 4 macam, yang pertama nasofaring swab, orofaring swab, sesudah itu futum sama darah," katanya saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Selasa (31/3/2020).

Apalagi, khusus untuk pengambilan sampel nasofaring dan orofaring memerlukan waktu 2 haru berturut-turut. Hal itu sebagai prosedur untuk menentukan hasil pemeriksaan.

"Kemudian untuk nasofaring dan orofaring kalau untuk PDP harus diambil 2 hari berturut-turut. Kenapa? Karena pemeriksaan itu bisa disimpulkan kalau spesimennya itu ada 2, terutama kalau yang negatif ya," ucapnya.

2. Disimpan di tempat khusus

Nantinya, keempat sampel itu disimpan di tempat khusus. Seperti untuk narofaring dan orofaring itu disimpan di VTM. Perlu diketahui, VTM berisi makanan dan antibiotik untuk virus, tujuannya agar virus bertahan saat dibawa sampai ke BBTKLPP.

"Sampai di lab ada beberapa proses, yang pertama sampelnya dibongkar dulu, kemudian dicatat sampelnya dari mana, diberi nomor dan diberi coding, nah itu butuh waktu. Kemudian aliquot yakni, diambil sebagian sampelnya untuk diperiksa dan sisanya kita simpan lagi, kita packing lagi untuk kemudian dikirim ke Litbangkes," katanya.

"Nah yang diperiksa di BBTKLPP itu adalah nasofaring dan orofaringnya. Untuk proses coding, penomoran dan aliquot itu kalau sampelnya banyak untuk satu kali running itu minimal butuh waktu 1 sampai 2 jam," lanjut Irene.

Petugas memeriksa sampel di laboratorium.Petugas memeriksa sampel di laboratorium. Foto: Pradito Rida Pertana/detikHealth

3. Ekstraksi dan PCR

Selanjutnya, tahap kedua adalah ekstraksi, pada tahapan ini pihaknya memisahkan RNA virus dari virus. Irene menyebut, satu kali kerja pihaknya mampu melakukan puluhan ekstraksi. Dimana ekstraksi itu menggunakan primer.

"Sembari mengekstraksi, kita juga melakukan pencampuran reagan. Ekstraksi itu memerlukan waktu 3-4 jam, kemudian kita lakukan pencampuran reagan sembari mengekstraksi (sampel PDP)," ucapnya.

Tak berhenti di situ, selanjutnya akan ada tahapan memasukkan hasil ekstraksi ke dalam mesin real-time Polymerase Chain Reaction (PCR).

"Nanti setelah ekstraksi selesai, penyiapan reagan selesai, dimasukkan ke mesin PCR realtime untuk membaca, membaca itu 3 jam dan tahapan persiapannya setengah jam, jadi ada 3 setengah jam waktu yang diperlukan," kata Irene.

Setelah mesin bekerja selama 3 jam nantinya akan mengeluarkan hasil. Selanjutnya, petugas akan menginput hasil pada catatan yang sudah dibuat pihaknya saat prosedur pertama.

"Jadi kalau secepatnya-cepatnya itu bekerja paling cepat satu kali proses itu 8 jam, itu paling cepat. Tapi kan begitu sampelnya masuk tidak bisa langsung simpulkan, kita baru bisa simpulkan setelah sampel kedua masuk kan, hari berikutnya," ucapnya.

"Jadi dalam keadaan normal, artinya kalau tidak ada penumpukan pasien karena misalnya primer habis atau apanya habis itu 2 hari sudah bisa kita keluarkan karena kita menunggu sampel itu 2-3 hari. Tapi kalau sudah numpuk, itu yang menjadikannya lama," lanjut Irene.

Salah satu tahapan pemeriksaan sampel virus corona COVID-19.Salah satu tahapan pemeriksaan sampel virus corona COVID-19. Foto: Pradito Rida Pertana/detikHealth

Kerja keras memeriksa sampel

Saat ini pihaknya belum mengalami kendala sehingga proses pengujian sampel berjalan lancar. Bahkan, dia mengaku kemarin, Senin (30/3/2020) pihaknha sempat memeriksa 115 sampel yang berasal dari DIY-Jateng.

"Sekarang sudah lancar kok, seperti kemarin kita periksa 115 sampel. Tadi yang membaca itu sekali running itu bisa 29 sampel yang 3 jam (dengan PCR). Jadi 115 sampel itu perlu running 4 kali, itu anak-anak bekerja dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jangan Terkecoh! Lembaga Eijkman Bukan Tempat Tes Corona"
[Gambas:Video 20detik]