Senin, 06 Apr 2020 09:56 WIB

Beda Ortu Vs Remaja dalam Menyikapi Pandemi Virus Corona

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Coronavirus written on file folder label Virus corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Pandemi virus corona COVID-19 telah mengubah kehidupan banyak orang. Terlebih saat ini pemerintah di berbagai negara termasuk Indonesia, meminta para warganya untuk tetap di rumah dan tidak beraktivitas di luar ruangan hingga penyebaran penyakit ini bisa dikendalikan.

Meski efektif dalam menghambat penyebaran virus corona, tetapi kebijakan ini juga bisa berdampak pada psikologis para orang tua dan remaja. Karena mereka harus bertahan di rumah hingga waktu yang belum ditentukan secara pasti.

Berikut ini adalah beberapa kekhawatiran yang bisa terjadi pada orang tua dan remaja selama menjalani karantina rumah, seperti dikutip dari BBC.

1. Orang tua

Seorang ibu rumah tangga bernama Shelley merasa khawatir dengan anak-anaknya dan keberlangsungan kehidupan keluarganya selama pandemi virus corona berlangsung.

"Saya adalah orang tua tunggal yang merupakan tulang punggung keluarga. Saya dapat bekerja dari rumah tetapi saya merasa tidak mungkin jika harus sambil mengurus anak saya yang berusia 6 dan 10 tahun," kata Shelly.

"Saya mendapatkan tawaran untuk bisa mengurangi jam kerja agar bisa mengurus anak saya, tetapi dengan syarat gaji akan dipotong. Kini kami tinggal bersama dengan ibu saya yang berusia 84 tahun dan saya benar-benar merasa terjebak," lanjutnya.

Menurut seorang psikolog, Dr Caroline Schuster kondisi seperti itu bisa terjadi karena hilangnya kebebasan yang selama ini dirasakan.

"Kurangnya privasi, kebosanan dan isolasi bahkan dalam keluarga. Karena hilangnya cara kehidupan yang lama," jelas Caroline.

Sementara itu seorang peneliti dari Universitas Terbuka, Inggris, Prof Jacqui Gabb mengatakan pamer kehidupan di media sosial selama menjalani karantina rumah juga bisa berdampak secara psikologis pada keluarga lain.

"Tidak semua orang bisa hidup dengan dapur mewah seperti mereka. Justru orang lain banyak yang menjadi seperti orang gila agar bisa memberi makan anak-anak mereka," ucap Prof Gabb.

Tak hanya itu, kedua ahli ini juga mengatakan kekhawatiran tentang nasib pekerjaan dan berkurangnya pendapatan bisa berdampak buruk pada keharmonisan dalam keluarga.

2. Remaja

Kurangnya aktivitas di dalam rumah membuat sebagian remaja kehilangan pola tidur yang sehat. Karena kebanyakan dari mereka akan begadang semalam suntuk, lantaran tak merasa ada kewajiban yang harus dilakukan pada pagi hari.

"orang tuaku sangat menyebalkan, aku keluar kamar dan berkata 'selamat pagi', dan mereka akan menjawab 'selamat siang'. Seolah-olah aku hanya jadi beban bagi mereka dan aku mengerti," tulis seorang remaja dalam sebuah tweet di Twitter.

Prof Gabb juga mengatakan remaja cenderung membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap memiliki kehidupan yang lebih bahagia, sehingga bisa berdampak pada psikologis mereka.

"Kisah yang kerap terlihat selalu dari mata orang kaya, dan bukan si miskin," ucap Prof Gabb.

Meskipun remaja cenderung lebih memikirkan dirinya sendiri, tetapi mereka juga mengkhawatirkan kondisi kesehatan anggota keluarganya selama pandemi virus corona ini berlangsung.



Simak Video "Tren 'Coronacuts', Potong Rambut Sendiri Selama Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)