Kamis, 09 Apr 2020 07:36 WIB

Curhat Pasien Cuci Darah, Wajib Rapid Test Corona dan Harus Bayar Sendiri

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
layanan cuci darah terganggu Seorang pasien di Surabaya terancam gagal cuci darah karena wajib tes corona (Foto: dok: KPCDI)
Jakarta -

Tak hanya pasien virus Corona yang tengah berjuang menghadapi pandemi Corona. Seorang pasien asal Surabaya pun terancam tak bisa cuci darah karena harus membayar rapid test.

Kabar ini awalnya diterima detikcom melalui Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) Tony Samosir.

"Ini tadi ditelepon dari pasien di Surabaya di Rumah Sakit S bahwasanya seluruh pasien di S itu wajib untuk rapid test dan foto thorax, biayanya itu tidak ditanggung BPJS Kesehatan, tapi ditanggung oleh pasien, kalau nggak mau nggak bisa cuci darah," ungkapnya saat dihubungi pada Rabu (8/4/2020).

Dihubungi secara terpisah, pasien yang berusia 37 tahun ini mengeluh karena terpaksa menunda jadwal cuci darah. Pengobatan pun terhambat karena tak punya cukup uang untuk langsung membayar serangkaian tes yang harus dilakukan sebelum bisa menjalani cuci darah.

"Jadi gini tadi siang itu kan setiap pasien kan selalu dapat grup cuci darah setiap RS toh. Jadi saat itu saya dikasih WA sama rumah sakitnya, sama susternya, bahwa setiap pasien HD itu harus melakukan rapid test, foto thorax, sama cek darah lengkap. Untuk memastikan pasiennya itu tidak terjangkit Corona, gitu lho. Itu cuman tidak pakai BPJS Kesehatan," ungkap pasien yang tak ingin disebutkan namanya.

Serangkaian tes yang ia sebut totalnya bisa mencapai satu juta ini disampaikan menjadi syarat agar ia bisa melakukan cuci darah. Menurutnya, penetapan kebijakan tersebut dilakukan serba mendadak dan sepihak karena tak diberi surat edaran resmi dari RS.

"Kan saya jadwal cuci darahnya itu besok jadi harus hari ini. Kalau nggak hari ini rapid test, besok ndak boleh datang, soalnya kan hasilnya langsung dibawa. Kalau nggak ada hasilnya nggak boleh masuk, nggak boleh cuci darah, harus tes dulu, berarti secara nggak langsung kan ini kaya sepihak gitu lho, tanpa melihat kondisi pasien gimana, terus keadaan gimana," lanjutnya.

Ia mengaku hingga saat ini belum mendapat solusi apa pun terkait pengobatannya. Ia hanya bisa menahan kondisinya dan berharap tak mengalami sesak napas. Ditambah lagi dirinya tak bisa pergi ke rumah sakit lain karena prosedurnya dinilai terlalu rumit.

"Iya ditahan selama saya nggak sesak, kalau sesak ya baru ke UGD, cuci darah," tutupnya.

Ia hanya bisa berharap pihak RS membuka keringanan dan menemukan solusi baginya serta sebagian pasien lain untuk tetap bisa melakukan cuci darah di tengah pandemi corona tanpa kesulitan.

Sementara itu, saat mengonfirmasi pihak RS terkait hal tersebut. Salah satu perawat yang menyampaikan kabar pada pasien ini pun tak ingin menyampaikan klarifikasi apapun serta menolak untuk diwawancara.

"Mohon maaf. Tidak bisa. Terima kasih," tegasnya melalui pesan singkat kepada detikcom.



Simak Video "Imunitas Tiap Orang Berbeda, Perhatikan Faktor yang Memengaruhinya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)