Jumat, 10 Apr 2020 17:59 WIB

WHO Peringatkan Tren Penjualan Obat Palsu Terkait Virus Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
obat palsu WHO memperingatkan tren obat palsu terkait virus Corona. (Foto ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Di tengah wabah virus Corona COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melihat tren kemunculan obat-obat palsu. Hal ini disebut berbahaya karena ada potensi efek sampingnya bila dikonsumsi sembarangan.

Salah satu tenaga ahli WHO, Pernette Bourdillion Esteve, menjelaskan nilai peredaran obat palsu di negara dengan pendapatan masyarakat menengah bisa sampai sekitar Rp 470 triliun. Peredarannya makin marak karena banyak masyarakat mencari obat untuk virus Corona.


"Skenario terbaik mengonsumsi obat palsu ini adalah tidak ada efek apa-apa. Tidak bisa menyembuhkan penyakit seperti yang diinginkan," kata Pernette seperti dikutip dari BBC, Jumat (10/4/2020).Definisi obat palsu bagi WHO adalah obat yang tercemar, beda bahan zat aktif, hingga sudah kedaluwarsa.

"Skenario terburuk obat palsu ini menyebabkan penyakit, kemungkinan karena tercampur zat berbahaya," lanjutnya.

Satu jenis obat yang disebut kerap dipalsukan adalah klorokuin dan hydroxychloroquine. Obat malaria ini banyak dicari karena dianggap dapat membantu menyembuhkan pasien meski belum ada hasil uji yang jelas.



Simak Video "Pemeriksaan Spesimen Covid-19 di Indonesia Capai Rekor Tertinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)