3 Hal yang Memicu Gejala Virus Corona Ringan Menjadi Berat dan Fatal

ADVERTISEMENT

3 Hal yang Memicu Gejala Virus Corona Ringan Menjadi Berat dan Fatal

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sabtu, 11 Apr 2020 12:00 WIB
ilustrasi corona
3 hal yang memicu gejala ringan corona menjadi fatal. (Foto: ilustrasi corona)
Jakarta -

Sebagian besar pasien virus Corona awalnya mengalami gejala ringan atau sedang. Sebagian besar yang bergejala ringan bisa dirawat di rumah dan akan pulih dalam beberapa minggu.

Namun, diestimasikan satu dari lima orang pasien mengembangkan gejala yang lebih parah dan mengkhawatirkan sehingga butuh penanganan khusus di rumah sakit. Pasien COVID-19 yang mengalami gejala berat juga harus memakai ventilator sebagai alat bantu napas.

Lalu, kira-kira apa saja yang memicu gejala virus corona ringan bisa menjadi berat? Berikut di antaranya dilansir dari The Sun.

1. Usia dan kondisi kesehatan

Para ahli menyebut memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta menjadi faktor penentu kondisi pasien virus corona bisa menjadi berat atau tidak. Hal ini dikarenakan individu dengan penyakit penyerta memiliki sistem kekebalan tubuh lebih lemah sehingga tak mampu melawan COVID-19.

"Jika sistem kekebalan tubuh tidak kuat, kemungkinan besar virus itu dapat berkembang biak di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan parut. Sistem kekebalan akan melawannya dan menghancurkan jaringan paru yang sehat dalam prosesnya," kata Dr Sarah Jarvis GP, Direktur Klinis Patient Access.

Meski demikian usia tidak selalu jadi pemicu yang mengubah virus corona menjadi penyakit mematikan. Beberapa lansia yang berusia 50 tahun ke atas juga bisa pulih dari COVID-19.

2. Saat virus telah melewati batang tenggorokan

COVID-19 umumnya ditemukan pada droplet dan memasuki tubuh melalui mukosa mata, hidung, dan mulut kemudian berdiam lama di tenggorokan. Saat perkembangannya bisa dihentikan di tenggorokan, kemungkinan pasien akan pulih dan hanya mengalami kondisi ringan dengan gejala batuk kering serta demam dan dapat diobati di rumah.

Namun jika virus berhasil melewati tenggorokan dan masuk ke dalam jaringan paru, penyakit tersebut akan masuk ke fase yang lebih memprihatinkan. Gejala yang dialami meliputi sakit dada, batuk kerasa, dan sesak napas. Virus ini juga dapat menyerang alveoli atau kantong udara dan memenuhinya dengan cairan sehingga menimbulkan pneumonia.

Kebanyakan yang meninggal karena COVID-19 adalah pasien dengan kondisi pneumonia berat. Oksigen tambahan dan ventilator biasanya digunakan bagi pasien pneumonia namun terkadang kerusakannya sudah terlalu berat.

3. Respon sistem kekebalan tubuh

Dalam kebanyakan kasus, kekebalan tubuh bisa langsung melawan dan mematikan virus corona dengan sukses. Saat kemunculan virus, tubuh berusaha segera memperbaiki kerusakan di paru-paru. Apabila berjalan dengan baik, infeksinya dapat diberantas dalam beberapa hari.

Sayangnya ada beberapa kondisi di mana kekebalan tubuh dapat lebih berbahaya dan menyebabkan hilangnya folikel yang membantu mengusir kontaminasi. Selain itu ada juga sindrom badai sitokin yang terjadi saat tubuh overdrive dalam upaya melawan virus. Saat badai sitokin terjadi, imun yang harusnya menyerang virus malah balik menyerang tubuh.

Orang yang lebih muda dan bugar dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat sebenarnya lebih mungkin mengalami episode badai sitokin daripada lansia. Jadi ya, orang tua dan orang muda sama rentannya pada infeksi virus corona.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT