Jumat, 17 Apr 2020 10:00 WIB

Studi Sebut Anjing Liar yang Makan Kelelawar Jadi Awal Pandemi Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Suku Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama Satpol PP Jakarta Pusat melakukan razia anjing dan kucing liar di Jalan Latuharhary, Jakarta, Kamis (9/4). Razia ini dilakukan untuk meminimalisir melebarnya virus rabies. Razia ini terhadap para pedagang anjing dan kucing. Studi sebut anjing liar yang makan kelelawar jadi pandemi Corona. (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Hingga kini awal mula kemunculan virus Corona masih menjadi perdebatan panjang. Namun baru-baru ini seorang ahli mengungkap terjadinya pandemi virus Corona memiliki kaitan erat dengan anjing liar.

Mengutip Sky News, Profesor Xuhua, Xia, dari Departemen Biologi di Universitas Ottawa, Kanada, mengatakan anjing liar yang memakan daging kelelawar menjadi inang perantara virus Corona baru hingga menyebabkan penyakit COVID-19.

Hasil studinya menunjukkan virus Corona COVID-19 yang berasal dari kelelawar menginfeksi usus anjing kemudian bermutasi sebelum menular ke manusia.

Meski begitu ia mengatakan manusia dan mamalia seperti anjing dapat melawan infeksi dengan senyawa proteinantivirus. Senyawa inilah yang bisa menghentikan adanya replikasi atau penggandaan virus.

Pada saat yang bersamaan wilayah DNA bernama dinukleotida CpG memerintah sistem kekebalan tubuh untuk menyerang virus. Namun virus Corona yang memiliki strain tunggal dapat menghindar dari pertahanan tubuh dengan mengurangi konsentrasi CpG.

Dalam penelitiannya, Prof Xia menganalisis genom betacoronavirus, salah satu genus virus Corona. Diketahui, genus ini memiliki empat garis keturunan atau subgenus, anggotanya termasuk MERS-CoV, SARS-CoV, dan SARS-CoV-2.

Hasil analisis genom mengungkap bahwa SARS-CoV-2 dan kerabat terdekatnya, salah satu jenis virus Corona dari kelelawar, ternyata memiliki jumlah CpG terendah di antara anggota genus betacoronavirus lainnya. Hanya genom dari canine coronavirus (CCoV) yang menginfeksi anjing yang memiliki nilai CpG serupa.

Studi yang terbit di jurnal Molecular Biology and Evolution ini pun memaparkan bahwa reseptor seluler untuk virus Corona SARS-CoV-2 secara luas diekspresikan dalam sistem pencernaan manusia.

"Ini konsisten dengan interpretasi bahwa CpG rendah di SARS-CoV-2 diperoleh dari leluhurnya yang berkembang dalam sistem pencernaan mamalia. Interpretasi ini semakin dikuatkan oleh laporan baru-baru ini bahwa sebagian besar pasien COVID-19 juga menderita gangguan pencernaan," jelas peneliti dalam makalahnya.

"Faktanya, 48,5 persen (pasien) ditampilkan dengan gejala pencernaan sebagai keluhan utama mereka," lanjutnya.

Prof Xia mengatakan, penelitiannya menunjukkan urgensi untuk memantau virus Corona pada anjing liar dalam perang melawan wabah SARS-CoV-2. Namun, Profesor James Wood, Kepala Departemen Kedokteran Hewan dan peneliti dalam dinamika infeksi di Universitas Cambridge tidak yakin pada hasil penelitian tersebut.

"Ada terlalu banyak kesimpulan dan terlalu sedikit data langsung. Saya tidak melihat apa pun dalam makalah ini untuk mendukung anggapan ini dan saya khawatir bahwa makalah ini telah diterbitkan dalam jurnal ini," katanya.

"Saya tidak percaya bahwa setiap pemilik anjing harus khawatir karena hasil dari penelitian ini," tutupnya.



Simak Video "WHO Tak Henti Keluarkan Peringatan soal Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)