Jumat, 17 Apr 2020 10:45 WIB

7 Penyebab Gangguan Kecemasan Mahasiswa di Tengah Pandemi Corona

Anjar Mahardhika - detikHealth
Portrait of young woman on the street wearing  face protective mask to prevent Coronavirus and anti-smog and using smartphone 7 penyebab gangguan kecemasan yang terjadi pada mahasiswa di tengah pandemi corona. (Foto ilustrasi: Getty Images/filadendron)
Jakarta -

Banyak dampak yang ditimbulkan di tengah kasus pandemi virus Corona yang terus meningkat. Kerja hingga belajar saat ini dikerjakan dari rumah karena adanya imbauan stay at home dari pemerintah. Salah satunya berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Karena dapat berdampak pada gangguan kecemasan yang timbul akibat virus Corona yang tidak kunjung selesai.

Diana Setiyawati, salah satu peneliti dari Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), mengatakan banyak mahasiswa yang butuh diperhatikan kesehatan mentalnya di tengah pandemi virus Corona.

"Sebenarnya prediksinya 15 sampai 25 persen yang akan membutuhkan mental health attention. Jadi kalau ada 10.000 mahasiswa ya kira-kira 2.000 yang memerlukan mental health attention," kata Diana dalam webinar online, Kamis (16/4/2020).

Berikut 7 penyebab gangguan kecemasan mahasiswa di tengah pandemi virus Corona menurut Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM):

1. Penyakit psikis sebelum masa pandemi COVID-19

Banyak mahasiswa yang memiliki penyakit psikis. Terlebih dengan adanya virus Corona semakin membuat hal ini bisa berdampak pada gejala gangguan kecemasan.

"Sebenarnya cukup banyak mahasiswa yang sebelumnya sudah memiliki depresi dan kecenderungan bunuh diri," kata Diana.

2. Penyakit fisik

Tidak hanya pada psikis, penyakit fisik juga menjadi salah satu gejala yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan pada mahasiswa. Diana mengatakan penyakit fisik dapat rentan terhadap COVID-19 karena bisa menimbulkan kecemasan yang lebih.

3. Kondisi ekonomi

Salah satu faktor yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan pada mahasiswa yakni faktor ekonomi. Karena di tengah pandemi ini, banyak penghasilan dalam keluarga yang hilang, yang membuat berkurangnya uang saku.

"Terpenuhinya kebutuhan pokok itu menjadi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk menjamin mental health mereka (mahasiswa)," lanjut Diana.

4. Kondisi fisik lingkungan

Banyak mahasiswa yang ngekost disaat melakukan kuliahannya. Kondisi ini bisa memicu timbulnya gejala kecemasan. Misal kamar kos yang sempit membuat mahasiswa bingung untuk melakukan kegiatan. Terlebih pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sebagian wilayah yang mengharuskan untuk tetap tinggal di rumah.

5. Kondisi studi

Deadline, tugas kuliah yang menumpuk menjadi tekanan yang lebih terhadap mahasiswa. Banyak dosen yang mengartikan kuliah online untuk memberikan tugas yang menumpuk. Hal ini dapat menimbulkan gejala kecemasan pada mahasiswa.

6. Fasilitas belajar tidak memadai

Salah satu hal yang membuat gejala kecemasan pada mahasiswa karena tidak adanya fasilitas yang memadai. Pandemi virus Corona membuat kegiatan kuliah beralih menjadi online. Tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan pembelajaran secara online.

"Fasilitas pembelajaran yang tidak memadai, laptop mati, gadget tidak standar," ungkap Diana.

7. Tekanan psikis akibat konflik

Terakhir tekanan psikis karena konflik juga dapat menimbulkan kecemasan pada mahasiswa di tengah pandemi ini. Baik konflik internal dalam keluarga maupun dengan di dalam pertemanan.

"Konflik dengan teman dengan orang tua. Ada juga kasus karena tidak nyaman harus di rumah karena terjadi kekerasan," tutupnya.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)