Jumat, 17 Apr 2020 13:39 WIB

Bolehkah Melakukan Program Bayi Tabung Saat Pandemi Corona? Ini Kata Dokter

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
ilustrasi bayi tabung Ada alasan pasutri sebaiknya tunda program bayi tabung. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) menjadi salah satu solusi agar pasutri bisa mendapatkan keturunan. Walau tak ada anjuran menunda kehamilan di tengah pandemi Corona, klinik bayi tabung akan melakukan seleksi pasien berdasarkan urgensi dan pasutri tidak disarankan melakukan proses penanaman embrio dan ditunda hingga pandemi usai.

"Kenapa tidak dianjurkan, karena program bayi tabung kita berharap dalam fase 2-3 bulan akan menjadi masa tenang, tapi kita tidak bisa prediksi. Saat ini ketidaktahuan kita terhadap status COVID-19 pada kehamilan apalagi kehamilan awal membuat kita berhati-hati," tutur itu ahli kandungan dari Morula Indonesia, dr Ivan Sini, SpOG, dalam webminar yang diadakan Morula Indonesia, Kamis (16/4/2020).

Saat melaksanakan penanaman embrio, pasien akan sering berkunjung ke rumah sakit baik untuk konsultasi atau melakukan tindakan. Mengingat saat ini penyebaran virus Corona sudah sangat masif dan banyak pasien COVID-19 tidak menunjukkan gejala, sebisa mungkin menghindari untuk keluar rumah.

"Yang pasti kita perlu konsultasi sedetail mungkin, perlu diskusi bagaimana program bayi tabung itu dijalankan," tuturnya.

Apabila sudah terlanjur menjalani program bayi tabung, maka dapat melanjutkan perawatan namun tetap memperhatikan prosedur yang ditetapkan rumah sakit atau klinik. Selain itu dr Ivan mengatakan ada opsi yang bisa dipilih selain bayi tabung yakni egg banking.

"Setelah 3-6 bulan mungkin pandemi selesai tapi usia (wanita) tidak bisa ditunda sehingga bisa melakukan egg banking," paparnya.

Mengutip Woman and Infants, egg banking atau pembekuan telur adalah tindakan medis bagi wanita untuk 'menyimpan' indung telur mereka yang sehat dan berkualitas untuk pembuahan di masa depan. Pembekuan telur umumnya dilakukan pasien yang sedang menjalani perawatan medis seperti kemoterapi.



Simak Video "Keputusan RI Buka Sekolah di Zona Kuning Dikritik WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)