Jumat, 17 Apr 2020 13:53 WIB

5 Hal yang Meningkatkan Risiko Kematian Pasien Corona

Anjar Mahardhika - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Jumlah kasus positif pandemi virus Corona semakin bertambah di dunia. Saat ini virus Corona telah menginfeksi lebih dari dua juta orang di dunia, dengan 145 ribu kematian dan 540 ribu orang yang dinyatakan sembuh.

Walaupun jumlah orang yang sembuh memiliki angka yang tinggi. Tetapi semakin hari angka kematian akibat virus Corona juga semakin bertambah.

Dikutip Daily Star, berikut 5 faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat terinfeksi virus Corona COVID-19:

1. Jenis kelamin

Sebuah penelitian menemukan bahwa 72,0 persen kematian akibat virus Corona terjadi pada pria. Banyak alasan mengapa lebih banyak pria yang meninggal dibanding wanita, salah satunya adalah gaya hidup dan kebiasaan merokok. Pria mendominasi perokok di dunia dibanding wanita. Orang yang merokok meningkatkan risiko kematian saat terinfeksi virus Corona.

2. Usia

Virus Corona pada umumnya dapat menginfeksi siapapun dari segala usia. Tetapi para ahli menyebut orang tua yang berusia 60 tahun ke atas memiliki risiko tinggi kematian yang disebabkan oleh virus ini.

Dr Sarah Jarvis Direktur Klinis Patient Access mengatakan bertambahnya usia dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Jadi, ini yang menyebabkan orang yang lebih tua memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.

3. Penyakit komorbid

Penelitian menyebutkan sebagian besar orang yang meninggal karena virus Corona memiliki penyakit komorbid atau bawaan. Beberapa penyakit komorbid yang meningkatkan risiko kematian di antaranya jantung, diabetes, hipertensi hingga jantung koroner.

4. Berat badan

Orang yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas secara serius memiliki risiko yang tinggi jika terinfeksi virus Corona. Karena obesitas dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh atau imunitas seseorang.

National Health Service (NHS) mengatakan orang yang memiliki Body Mass Index (BMI) 40 atau lebih memiliki risiko lebih besar terkena komplikasi jika tertular virus ini. Sedangkan orang yang memiliki berat badan normal hanya memiliki BMI sekitar 18,5-22,9.

5. Sel darah putih rendah

Sebuah penelitian menyebutkan 81,2 persen orang yang meninggal karena virus Corona memiliki jumlah eosinofil yang sangat rendah saat masuk ke rumah sakit. Eosinofil adalah jenis sel darah putih yang merupakan sel kekebalan khusus yang membantu melawan infeksi. Petugas medis mengatakan, memiliki kadar eosinofil rendah dapat berkorelasi dengan risiko kematian yang lebih besar jika terinfeksi virus Corona.



Simak Video "WHO Minta Tiap Negara Transparan soal Kasus COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)