Sabtu, 18 Apr 2020 12:42 WIB

Sejarah Klorokuin, Obat Malaria yang Kini Diuji untuk Pasien Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Chemical formula of Chloroquine on a futuristic background Klorokuin sudah lama dikenal sebagai obat malaria. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Zerbor)
Jakarta -

Klorokuin jadi salah satu senyawa yang kini diteliti untuk mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Pemberiannya tidak bisa sembarangan dan bukan untuk dikonsumsi masyarakat umum karena berisiko menimbulkan efek samping.

Terkait hal tersebut, klorokuin sebetulnya sudah lama dikenal sebagai obat untuk parasit malaria. Guru Besar Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Universitas Padjajaran, Profesor Muchtaridi, menjelaskan klorokuin merupakan merupakan pengembangan dari senyawa kinin sulfat.

Kinin sulfat pertama kali diekstrak dari batang pohon kina pada tahun 1800-an. Perlahan penggunaan kinin ditinggalkan karena parasit malaria membangun resistensi terhadapnya dan memiliki toksisitas tinggi.

"Sejarahnya kinin sulfat dulu abad 18 yang dipakai. Tahun 1934, Bayer dari Jerman mencari alternatif baru namanya klorokui. Senyawa ini lebih polar dan lebih tidak toksik," kata Prof Muchtaridi pada detikcom, Sabtu (18/4/2020).

Kini klorokuin dan variannya, hydroxychloroquine, diteliti untuk jadi obat Corona. Prof Muchtaridi menjelaskan lebih jauh bahwa dikatakan klorokuin bukan untuk spesifik menarget virus, melainkan untuk meringankan gejala peradangan pada paru-paru.

"Bukan sebagai antivirus, tapi sebagai antiradang paru atau pneumonia," pungkas Prof Muchtaridi.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)