Minggu, 19 Apr 2020 06:00 WIB

13 Gejala Virus Corona yang Tak Terpikir Sebelumnya, Termasuk Nyeri Testis

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Male suffering with pain in the urogenital system. Disease for men. The concept of protection of sexually transmitted infections. Nyeri testis (Foto: iStock)
Jakarta -

Saluran pernapasan merupakan organ yang paling terkena dampak fatal saat seseorang terinfeksi virus Corona COVID-19. Gejala yang timbul biasanya sesak napas, demam, hingga paling parah pneumonia.

Tetapi, dampak yang terjadi pada tubuh tidak hanya pada bagian itu saja. Ada banyak sekali dampak lain yang bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya.

Semakin banyaknya variasi gejala yang terjadi pada pasien virus Corona, detikcom merangkumnya sebagai berikut.

1. Diare

Sebuah penelitian mengungkapkan ternyata diare juga banyak dikeluhkan oleh pasien corona. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap 204 pasien di Wuhan.

Sekitar 99 pasien atau 48,5 persen yang masuk ke rumah sakit mengeluh dengan masalah pencernaan. Padahal mereka sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit perut apapun.

Riset ini mengungkap, pasien COVID-19 dengan masalah pencernaan cenderung lebih lama mencari pertolongan ke rumah sakit. Mengutip CBSnews, rata-rata butuh waktu 9 hari untuk datang ke rumah sakit.

2. Kehilangan kemampuan penciuman dan perasa

Para ilmuwan di King's College London mengatakan gejala yang paling akurat untuk mengidentifikasi pasien COVID-19, yaitu kehilangan indra penciuman dan perasa. Sekitar 59 persen pasien yang dinyatakan positif COVID-19 mengalami itu.

Gejala ini disebut lebih akurat untuk mendiagnosis COVID-19 dibandingkan dengan gejala demam seperti yang selama ini dilaporkan. Biasanya ini terjadi di saat tahap awal penyakit.

"Orang-orang dengan gejala kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa ini tiga kali lebih mungkin membuktikan bahwa ia terinfeksi COVID-19. Jika itu terjadi, kami menyarankan mereka untuk mengisolasi diri guna mengurangi penyebaran penyakit," kata peneliti utama Profesor Tim Spector dari King's College.

3. Mata merah

American Academy of Opthalmology memberikan peringatan pada semua petugas tenaga medis, bahwa virus corona dapat menyebabkan konjungtivitis. Ini menyebabkan mata dan sekitarnya menjadi merah.

Kondisi ini telah dialami oleh seorang perawat asal Amerika Serikat, Chesley Earnest saat menangani pasien virus corona. Ia mengatakan, hampir semua pasien yang bergejala berat itu matanya memerah.

Menurut jurnal dari JAMA Ophthalmology, sebanyak 12 dari 38 pasien memiliki gejala yang terkait dengan konjungtivitis, seperti hiperemia konjungtiva (peningkatan pembuluh darah pada mata), kemosis (kelopak mata membesar), epifora (mata berair), atau peningkatan sekresi. Gejala ini lebih sering dialami oleh pasien COVID-19 yang lebih parah. Kemungkinan bisa ditularkan dari air mata.

4. Gangguan saraf

Ternyata penyakit saraf juga bisa menjadi satu gejala COVID-19. Ahli menyebut ada kemungkinan virus corona tersebut bisa menyerang otak. Hal ini dialami pasien berusia 74 tahun dari Amerika Serikat yang kehilangan kemampuan bicaranya setelah mengeluh demam dan batuk.

Gejala penyakit saraf yang pernah dilaporkan pasien, di antaranya kejang, kebingungan, pusing, sakit kepala, mengigau, kebas, hingga stroke. Studi yang dipublikasi dalam British Medical Journal (BMJ) pada 26 Maret 2020 menyebut sekitar 22 persen dari 113 pasien positif corona yang meninggal di Wuhan mengalami gejala gangguan saraf.

Ada teori lain yang menyebut bahwa kemungkinan gejala penyakit saraf muncul karena adanya penurunan fungsi paru-paru, dan berdampak pada kekurangan oksigen ke otak.

5. Nyeri otot

Para ahli mengungkapkan bahwa nyeri otot bisa menjadi tanda dari virus Corona COVID-19 yang serius. Ahli penyakit menular, Megan Coffee, mengatakan nyeri otot dalam yang dikenal sebagai mialgia sering terlihat pada pasien COVID-19.

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala nyeri otot tersebut terjadi pada 15 persen pasien virus corona. Dikutip dari The Sun, nyeri ini disebabkan oleh bahan kimia yang disebut sitokin yang dilepaskan ke dalam tubuh sebagai respon terhadap infeksi.

6. Nyeri pada testis

Seorang pria dinyatakan positif COVID-19, tapi tidak mengalami gejala umum seperti batuk dan sesak napas. Namun, ia merasakan nyeri di bagian testisnya.

Setelah pemeriksaan X-ray dokter mengatakan testisnya dalam keadaan normal. Saat melakukan CT Scan, dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami pneumonia hingga akhirnya dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

Dikutip dari Daily Mail, para dokter di Harvard Medical School tidak mengatakan bahwa nyeri testis adalah salah satu gejala virus Corona, tetapi mengingatkan adanya gejala 'atipikal' dari COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]