Minggu, 19 Apr 2020 08:51 WIB

Pakar WHO: Tak Ada Bukti Seseorang Jadi Kebal Corona Setelah Sembuh

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Pemeriksaan suhu tubuh untuk medeteksi infeksi virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Kekebalan atau imunitas yang terbentuk setelah seseorang terinfeksi virus Corona COVID-19 diyakini akan mencegah infeksi berikutnya. Namun sejauh ini, pakar menyebut tidak ada bukti yang mendukung anggapan tersebut.

Pendapat ini disampaikan berdasarkan hasil tes serologi yang dilakukan di sejumlah negara. Tes ini mendeteksi antibodi di dalam plasma darah yang terbentuk setelah seseorang terinfeksi virus Corona.

"Saat ini kita tidak punya bukti bahwa penggunaan tes serologi bisa menunjukkan seseorang punya kekebalan atau terlindungi dari reinfeksi," kata pakar epidemologi Dr Maria van Kerkhove, dikutip dari Sky.com.

Penggunaan tes antibodi tengah jadi sorotan karena sensitivitasnya dinilai rendah. Antibodi hanya menunjukkan bahwa seseorang pernah terinfeksi atau terpapar, tidak ada jaminan bahwa orang tersebut akan terlindungi dari reinfeksi dalam jangka panjang.

"Tidak seorang pun yakin apakah seseorang dengan antibodi benar-benar terlindungi dari penyakit atau akan terpapar lagi," tegas Dr Mike Ryan, direktur eksekutif organisasi kesehatan dunia WHO.



Simak Video "Tips Jaga Imunitas Tubuh Agar Tetap Kuat saat Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)