Senin, 20 Apr 2020 06:30 WIB

Heboh Video Luna Maya, Benarkah Corona Tak Seganas yang Dibayangkan?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Luna Maya Luna Maya bikin heboh dengan perbincangannya soal virus Corona COVID-19 (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Baru-baru ini video perbincangan Luna Maya bersama drh Moh Indro Cahyono terkait Corona heboh di media sosial. Dalam video yang diunggah 12 April lalu tersebut, muncul satu pernyataan yang kemudian dinilai menyepelekan virus Corona COVID-19.

"COVID-19 ini membuat sakit, tetapi tidak ganas dan membunuh seperti yang ada di media," ujar drh Indro dalam video yang diunggah akun fanbase Luna Maya @lunamayadiary di Instagram.

"Belum pernah satu pun ada yang meninggal hanya karena COVID-19," lanjut dokter hewan yang tengah mendalami ilmu virologi tersebut.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP, (K), menjelaskan anggapan tersebut tidak benar. Faktanya, kasus kematian virus Corona di Indonesia dilaporkan terus bertambah setiap hari.

"Lah faktanya tingkat kematian di Indonesia 8,8 sampai 9 persen tuh, tiap hari diumumin sekian orang meninggal karena COVID-19, terus itu meninggalnya karena apa," tepisnya saat dihubungi detikcom pada Minggu (19/4/2020).

Dalam video perbincangan Luna Maya dengan drh Indro juga disebutkan pasien Corona yang meninggal selalu memiliki penyakit penyerta. Namun menurut dr Agus, pernyataan terkait tidak ada yang meninggal karena virus Corona COVID-19 tetap perlu diluruskan.

"Kita secara nasional belum ada data berapa persen ya pasien komorbid, tapi kalau di salah satu rumah sakit rujukan, sekitar 80 sampai 85 persen itu memiliki komorbid, sekitar 15 persen itu tidak memiliki komorbid sama sekali," tegasnya.

"Dan sekarang statement tersebut menurut saya itu statement yang salah dan menyesatkan karena seandainya pasien itu dengan komorbid tidak terkena COVID-19 maka orang itu mungkin masih bisa survive. Artinya adanya komorbid pada COVID-19 ini menyebabkan kondisi penyakitnya tersebut terjadi pemburukan yang lebih cepat," lanjutnya.

Bahkan menurut dr Agus, faktanya ada pula pasien virus Corona yang meninggal tanpa penyakit penyerta. "Jadi statement bahwa tidak ada kematian karena COVID-19 ini hal yang perlu diluruskan, bahwa adanya komorbid menyebabkan peningkatan risiko kematian COVID-19," ujarnya.

"Bahkan ada yang tidak memiliki komorbid, 15 persen data di rumah sakit rujukan itu meninggal tanpa komorbid, usianya muda, ada yang bayi malah, ada yang usia remaja nggak ada komorbid meninggal, jadi fakta itu sudah ada kenyataannya, bahwa itu terjadi," katanya kembali menegaskan.



Simak Video "WHO Kunjungi China Pekan Ini untuk Telusuri Asal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)