Senin, 20 Apr 2020 13:51 WIB

Peneliti Sebut Virus Corona Bisa Serang Kekebalan Tubuh Seperti HIV

Ayunda Septiani - detikHealth
Detail of coronavirus test tubes VIrus Corona COVID-19 (Foto: iStock)
Jakarta -

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan khawatir bahwa virus Corona COVID-19 bisa membunuh sel-sel kekebalan tubuh yang seharusnya berperan dalam membunuh virus.

Penemuan mengejutkan dari tim peneliti di Shanghai dan New York serta pengamatan dokter yang menangani pasien Corona menyebutkan, bahwa virus Corona dapat menyerang sistem kekebalan manusia sehingga menyebabkan kerusakan yang serupa dengan yang dialami pasien HIV.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Lu Lu dari Universitas Fudan di Shanghai dan Jang Shibo dari New York Blood Centre mengungkapkan, bahwa Sars-CoV-2 bergabung dengan jalur sel limfosit T yang ditumbuhkan di laboratorium.

Limfosit T atau sel T memainkan peran sentral untuk mengidentifikasi dan menghilangkan benda asing dalam tubuh. Sel T akan menangkap sel yang terinfeksi virus, membuat lubang di membrannya dan menyuntikkan bahan kimia beracun dalam sel. Bahan kimia ini kemudian membunuh virus dan sel terinfeksi dan mengancurkannya berkeping-keping.

Namun dalam kasus virus Corona, sel T justru menjadi mangsa virus Corona dalam percobaan mereka. Para peneliti juga menemukan struktur unik dalam protein di paku virus corona yang memicu perpaduan selubung virus dan membran sel ketika mereka bersentuhan. Hal tersebut membuat virus dapat masuk ke dalam sel T, sehingga menonaktifkan fungsinya untuk melindungi manusia.

Gen virus kemudian memasuki sel T dan 'menyanderanya', menonaktifkan fungsinya melindungi manusia.

Para peneliti melakukan percobaan yang sama dengan severe acute respiratory syndrome (SARS) dan virus Corona lain, menemukan bahwa virus SARS tidak memiliki kemampuan untuk menginfeksi sel T.

Hal ini diduga karena kurangnya fungsi fusi membran. SARS yang mewabah pada 2003, hanya dapat menginfeksi sel yang membawa protein reseptor spesifik yang dikenal sebagai ACE2, dan protein ini memiliki kehadiran yang sangat rendah dalam sel T.



Simak Video "WHO Minta Tiap Negara Transparan soal Kasus COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)