Rabu, 22 Apr 2020 12:05 WIB

Studi Sebut Pasien dengan Hidroklorokuin Punya Risiko Kematian Lebih Tinggi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Coronavirus blood test in hospital laboratory Virus Corona COVID-19 (Foto: iStock)
Jakarta -

Hydroxychloroquine atau hidroklorokuin merupakan obat yang digunakan untuk mencegah dan menangani pasien malaria. Selain itu, obat ini juga dipercaya bisa mengobati pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19, salah satunya oleh Presiden AS Donald Trump.

Namun, sebuah studi mengungkapkan pasien yang diobati dengan hidroklorokuin tingkat kematiannya lebih tinggi, dibandingkan yang tidak. Dari 368 pasien, 97 persen yang menggunakan obat tersebut memiliki tingkat kematian sebesar 27,8 persen. Sedangkan pada 158 pasien yang tidak menggunakannya, tingkat kematiannya hanya 11,4 persen.

"Peningkatan jumlah kematian secara keseluruhan diidentifikasi hanya terjadi pada pasien yang diobati dengan hidroklorokuin saja. Temuan ini menunjukkan pentingnya menunggu hasil studi yang prospektif dan terkontrol sebelum menggunakannya secara luas," tulis pada peneliti di Columbia VA Health Care System, di Carolina Selatan, University of South Carolina dan the University of Virginia.

Dikutip dari CNN, peneliti juga ingin melihat apakah penggunaan hidroklorokuin saja atau dikombinasikan dengan antibiotik azithromycin memiliki efek yang sama, pada pasien yang menggunakan ventilator.

"Dalam penelitian ini, kami tidak menemukan bukti bahwa penggunaan hidroklorokuin, baik dengan atau tanpa campuran azithromycin bisa mengurangi ventilasi mekanik pada pasien COVID-19," jelasnya.

Meskipun sudah banyak obat yang diteliti untuk mengobati pasien COVID-19, masih belum ada yang disetujui oleh pihak Administrasi Makanan dan Obat di Amerika Serikat. Hidroklorokuin sendiri memang telah digunakan selama beberapa dekade untuk mengobati berbagai penyakit seperti malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis.

Studi baru lainnya dari para peneliti di Perancis mengatakan, dari 181 pasien yang menderita pneumonia dan butuh oksigen tambahan sebagian diobati dengan hidroklorokuin, sementara sebagian lagi tidak.

Hasilnya, tidak terjadi perbedaan yang signifikan terhadap keadaan kedua kelompok tersebut. Bahkan, pada pasien yang diberikan hidroklorokuin menunjukkan irama jantung yang abnormal dan harus berhenti mengkonsumsinya.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penggunaan Klorokuin untuk Pasien COVID-19 Disetop"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)