Jumat, 24 Apr 2020 16:03 WIB

Banyak Teori soal Berjemur, Mana yang Benar Ya?

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Berjemur Foto: Getty Images/iStockphoto/Alex Potemkin
Jakarta -

Sejak adanya pandemi virus Corona atau COVID-19, masyarakat diimbau untuk melakukan physical distancing dan tetap di rumah aja. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah berjemur untuk mendapatkan vitamin D yang dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Namun belakangan ini banyak perdebatan soal waktu berjemur. Ada kubu pendukung berjemur jam 10 ke atas, dan pendukung berjemur sebelum jam 10 pagi. Lalu berjemur seperti apa yang dianjurkan untuk mendapatkan vitamin D dengan maksimal?

Menurut dr. Esther Kristiningrum dari Departemen Medical PT Kalbe Farma Tbk, pembentukan vitamin D3 di kulit memerlukan sinar ultraviolet B (UVB) dari matahari yang akan mengkonversi provitamin D3 di kulit menjadi previtamin D3, yang kemudian diubah menjadi vitamin D3. Tidak ada panduan yang spesifik mengenai waktu berjemur yang terbaik karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti intensitas UVB, musim, adanya awan, kabut, penggunaan tabir surya (sunblock atau sunscreen), serta warna kulit.

"Semakin tinggi intensitas UVB, maka pembentukan vitamin D di kulit akan semakin efisien. Intensitas UVB di atas jam 10 lebih tinggi dibanding di bawah jam 10, dengan puncaknya saat tengah hari. Lebih efisien di sini maksudnya adalah memerlukan waktu yang lebih singkat untuk mendapatkan manfaat yang sama. Musim dingin, adanya awan, kabut, penggunaan tabir surya, dan warna kulit yang lebih gelap juga dapat mengurangi efisiensi pembentukan vitamin D di kulit." ujar dr Esther kepada detikHealth, Jumat (24/4/2020).

Namun perlu diingat, meskipun pembentukan vitamin D akan lebih efisien jika berjemur di siang hari, ada risiko yang bisa disebabkan karena berjemur terlalu siang. Apalagi jika berjemur dalam waktu yang lama tanpa menggunakan pelindung atau tabir surya.

"Yaitu bisa menyebabkan risiko kulit terbakar (sunburn), timbul flek-flek pada kulit, bahkan bisa berisiko terjadinya kanker kulit, dan juga kerusakan mata," jelasnya.

Sebaliknya, jika berjemur terlalu pagi, meskipun lebih aman bagi kulit, namun intensitas UVB masih terlalu rendah sehingga kurang optimal dan efisien dalam pembentukan vitamin D. Berjemur terlalu lama tanpa pelindung di pagi hari juga bisa berisiko timbulnya keriput dan kanker kulit akibat paparan sinar ultraviolet A (UVA).

Selain intensitas UVB, lanjut dr Esther, lama waktu berjemur juga bisa tergantung dari warna kulit. Umumnya diperlukan waktu berjemur sekitar 10-15 menit, namun untuk yang berkulit lebih gelap, bisa memerlukan waktu berjemur yang lebih lama, karena kandungan pigmen kulit (melanin) yang tinggi dapat menghambat produksi vitamin D pada kulit.

Lebih lanjut dr Esther menjelaskan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh, sebenarnya bisa dengan paparan sinar UVB yang cukup, yaitu saat intensitas UVB cukup tinggi dan tanpa menggunakan pelindung atau tabir surya. Minimal 2-3 kali seminggu pada lengan, tungkai, atau punggung.

"Namun, adanya pembatasan bagi beberapa orang seperti risiko kerusakan kulit jika berjemur saat intensitas UVB tinggi, anjuran penggunaan pelindung atau tabir surya, dan lebih seringnya berada di dalam ruangan, menyebabkan kurangnya kebutuhan vitamin D atau pembentukannya seringkali kurang optimal. Namun tidak perlu khawatir, Anda dapat memperoleh sumber vitamin D lainnya melalui makanan atau suplemen," ujarnya.

Namun sebaiknya lakukan pemeriksaan kadar vitamin D dalam darah terlebih dahulu agar kita mengetahui apakah kadar vitamin D kita sudah cukup atau kurang. Sebab, menurut dr Esther, meskipun kejadiannya sangat jarang, namun jika kelebihan vitamin D bisa mengakibatkan hiperkalsemia, kondisi di mana kadar kalsium dalam darah lebih dari normal yang menyebabkan gejala mual, muntah, sembelit, sakit kepala, bahkan bisa mengakibatkan kerusakan jaringan pada organ tubuh seperti pembuluh darah, jantung, dan ginjal.

Anda juga bisa melakukan pemeriksaan laboratorium klinik terakreditasi seperti KalGen Innolab. KalGen Innolab akan menggunakan sampel serum darah yang dikerjakan dengan Immuno Analyzer yang sudah terstandarisasi dengan LC-MS (Liquid Chromatography-Mass Spectrometry). Kadar vitamin D yang optimal jika kadar 25(OH)D 30-50 ng/mL. Jika kadar 25(OH)D dalam darah kurang, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan terapi vitamin D dengan dosis yang sesuai.



Simak Video "Yang Perlu Diperhatikan Saat Berjemur Agar Dapat Hasil Optimal"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)