Kamis, 30 Apr 2020 19:15 WIB

3 Cara Meminimalkan Stigma Negatif Soal Corona

Muhammad Anjar Mahardhika - detikHealth
Malaysia menjadi salah satu negara asia yang dinilai berhasil melawan pandemi COVID-19. Lebih dari setengah kasus positif di sana telah dinyatakan sembuh. Muncul banyak stigma soal virus Corona di masyarakat. (Foto: AP/Vincent Thian)
Jakarta -

Penyebaran virus Corona yang terus meningkat menimbulkan banyak stigma di masyarakat. Salah satunya stigma negatif yang terjadi pada tenaga kesehatan.

Banyak akibat yang ditimbulkan dari stigma negatif, di antaranya perawat yang diusir dari kost, pengucilan paramedis yang merawat pasien terinfeksi virus Corona, hingga penolakan jenazah pasien yang terinfeksi virus tersebut.

Untuk menguranginya, berikut 3 cara yang dilakukan pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan di tengah pandemi Corona.

1. Komunikasi risiko

Menerapkan komunikasi risiko dapat mengurangi dampak stigmatisasi di tengah masyarakat. Hal ini dilakukan untuk meluruskan berita-berita narasi negatif yang beredar terkait virus Corona.

"Data-data tentang kesembuhan, data-data keberhasilan ini harus seimbang, menjadi informasi yang juga harus diperkaya dan dibanjiri sehingga stigmatisasi tersebut tidak menjadi luas," kata Dr dr Fidiansjah SpKJ, MPH, Direktur Pengendalian dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2 Makeswa) Kementerian Kesehatan RI.

"Stigma akan berkurang ketika komunikasi risiko berjalan dengan baik," lanjutnya.

2. Berikan apresiasi

Masyarakat harus diedukasi agar terus memberikan apresiasi dan mendukung tenaga kesehatan, yang berjuang di garda depan penanganan virus Corona. Memberikan apresiasi bisa mengurangi dampak stigmatisasi yang muncul.

"Stigmatisasi itu kita minimalisir dengan harus terus kita berikan apresiasi. Persoalan ini tak bisa diselesaikan para superhero, justru tenaga kesehatan. Sekarang mereka memberikan suatu perjuangan yang luar biasa di dalam konteks ketika orang harus membutuhkan pertolongan," ujar Fidiansjah.

3. Dukungan psikososial dan kesehatan jiwa

Psikososial dan kesehatan jiwa sangat berkaitan erat dengan stigmatisasi yang terjadi di masyarakat. Terlebih banyak berita negatif yang banyak beredar terkait virus Corona.

"Persoalan COVID ni tidak hanya terbatas soal kesehatan semata tapi mencakup masalah psikologis dan sektor lainnya. Dan stigma ini juga memang merupakan area yang sangat penting di dalam pengelolaan kesehatan jiwa," ungkap Fidiansjah.

Pemerintah telah meluncurkan layanan kesehatan jiwa (SEJIWA), yang dapat diakses di nomor telepon 119 ext 8. Layanan ini dapat diakses masyarakat untuk mendapatkan dukungan psikologis. Diharapkan dapat mengurangi stigma negatif yang mengganggu psikologis masyarakat di tengah pandemi Corona.



Simak Video "Pfizer Uji Klinis Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 5-11 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)