Jumat, 01 Mei 2020 07:20 WIB

Uji Eksperimental Kandidat Obat Corona Tunjukkan Hasil Memuaskan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Virus corona: Remdesivir disebut terbukti membantu penyembuhan pasien Covid-19, tapi bukan peluru ajaib Remdesivir jadi salah satu kandidat obat potensial COVID-19. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Setidaknya 10 senyawa obat yang berbeda mulai dari terapi kanker hingga antipsikotik dan antihistamin diteliti untuk mencegah virus Corona berkembang dalam tubuh.

Penelitian multidisiplin yang dilakukan oleh tim ilmuwan di Amerika Serikat dan Prancis ini memetakan protein yang berinteraksi dengan virus di dalam tubuh saat menginfeksi sel. Mereka kemudian mencari senyawa yang dapat memblokir virus dari penggunaan protein tersebut.

Banyak peneliti bergegas untuk mengembangkan terapi eksperimental serta menggunakan kembali obat yang sudah ada untuk mengobati pasien COVID-19 dan masyarakat menaruh harapan tinggi pada obat antivirus yang dikembangkan oleh Gilead Sciences Inc, remdesivir.

Mengutip Reuters, dalam studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, terdapat beberapa kandidat bahan obat yang dipakai termasuk bahan obat alergi lemastine, haloperidol antipsikotik, dan obat malaria hydroxychloroquine.

Studi ini juga mengungkapkan mengapa hydroxychloroquine memiliki efek toksik pada jantung. Obat malaria yang sering dipuji-puji Presiden AS Donald Trump ini mampu mengikat reseptor yang menginfeksi sel. Tetapi hydroxychloroquine juga mengenai protein tertentu dalam jaringan jantung, yang dapat menjelaskan efek obat pada irama jantung.

Hormon progesteron juga ditemukan mampu melawan virus yang mungkin menjelaskan beberapa alasan mengapa pria tampaknya lebih rentan terhadap COVID-19 dan lebih sering menderita komplikasi parah.

Senyawa lain yang ditemukan mampu melawan virus adalah plitidepsin, yang digunakan dalam terapi kanker eksperimental PharmaMar Aplidin yang berbasis di Madrid dan saat ini sedang diuji untuk pasien COVID-19 di Spanyol.

"Beberapa obat dan senyawa ditemukan memiliki potensi yang lebih besar daripada remdesivir, setidaknya dalam pengaturan laboratorium," tutur penelitian Nevan Krogan dari University of California San Francisco.



Simak Video "Ketua Riset COVID-19: Buat Obat Itu Prosesnya Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)