Sabtu, 02 Mei 2020 03:00 WIB

Di Tengah Pandemi Corona, Penyakit Kencing Tikus Tewaskan 1 Orang di Klaten

Achmad Syauqi - detikHealth
Paris Mayor Anne Hidalgo said the city would buy new traps for the rats and surround some of the citys 30,000 rubbish bins with wooden or Plexiglass bases (AFP Photo/PHILIPPE LOPEZ) Kencing tikus bisa menularkan penyakit (Foto: AFP Photo/PHILIPPE LOPEZ)
Klaten -

Penyakit kencing tikus atau leptospirosis menggemparkan Klaten, Jawa Tengah. Penyakit yang disebabkan bakteri leptospira di kencing tikus itu sudah merenggut 1 korban jiwa.

"Sejak bulan Januari-Maret, ada satu korban jiwa. Waspadai karena leptospirosis gejalanya sangat umum," ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pemkab Klaten dokter Anggit Budiarto pada detikcom, Jumat (1/5/2020).

Anggit menjelaskan, data sejak bulan Januari sudah ditemukan kasus terkonfirmasi leptospirosis. Pada bulan Januari ada 5 kasus dengan 1 meninggal.

"Januari ada 5 kasus dengan 1 orang meninggal. Pada bulan Februari ada 2 kasus tanpa korban jiwa dan Maret ada 4 kasus juga tidak ada korban jiwa," lanjut Anggit.

Untuk kasus bulan April, jelas Anggit, belum masuk laporannya. Namun dinas berharap tidak ada lagi tambahan.

"Semoga tidak ada tambahan. Sebab leptospirosis itu gejalanya seperti gejala umum demam, ngilu, pandangan tidak nyaman, nafsu makan turun," sambung Anggit.

Apabila mengalami gejala-gejala tersebut, tambah Anggit, disertai ada riwayat pekerjaan di tempat yang becek dan kotor serta ada luka, lebih baik segera periksakan diri.

"Gejala leptospirosis itu sangat umum. Bisa dianggap sepele karena rumangsane ( dikiranya) masyarakat cuma kelelahan," kata Anggit.

Sementara, lanjut Anggit, data tahun 2019, Dinkes mencatat ada 41 kasus leptospirosis. Dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 6 orang sehingga masyarakat diminta tetap waspada.

"Masyarakat waspada karena itu kuncinya. Semua penyakit itu pokoknya berbahaya sehingga harus dicegah dengan hidup sehat, makan bergizi, waspadai gejala, periksa diri dan lainnya," pungkas Anggit.



Simak Video "Uji Klinis Vaksin Sinovac Dikebut, Epidemiolog: Jangan Campuri dengan Politik"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)