Rabu, 06 Mei 2020 09:28 WIB

Tipe Corona di Indonesia Beda dari Dunia, Ini Cara Virus Bermutasi

Firdaus Anwar - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona di Indonesia berbeda dari tiga tipe utama di dunia. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah berhasil melakukan tiga whole genome sequencing (WGS) dari sampel virus Corona yang ditemukan di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui karakter dari virus.

Hasilnya menurut Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro ternyata virus Corona COVID-19 di Indonesia berbeda dari tiga tipe utama yang ada di dunia. Virus disebut sudah bermutasi.

"Kemarin Eijkman sudah men-submit atau menyampaikan 3 WGS, whole genome sequencing ke gisaid.org sebagai upaya untuk bisa melihat karakter dari COVID-19, terutama yang berada atau beredar di Indonesia. Ini adalah 3 whole genome sequencing pertama yang di-submit Indonesia ke GISAID yang mengumpulkan semua whole genome sequencing dari berbagai negara atau seluruh negara di dunia," kata Bambang.

"Sejauh ini, dari informasi GISAID, ada 3 tipe COVID-19 yang ada di dunia, ada tipe S, tipe G, dan tipe V. Di luar 3 tipe itu ada yang disebut sebagai tipe lain, jadi yang belum teridentifikasi. Dan ternyata whole genome sequences yang dikirim Indonesia termasuk kategori yang lainnya," jelasnya.

Bagaimana virus bermutasi sehingga bisa ada berbagai tipe COVID-19?

Virolog Ian Jones dari University of Reading, Inggris, menjelaskan virus RNA seperti Corona memang secara alami terus bermutasi. Hal ini terjadi karena ada kecacatan dalam proses replikasi.

Saat virus Corona menginfeksi sel, virus akan membajak fungsi sel untuk menciptakan jutaan virus baru dengan informasi genetik yang sama. Dalam prosesnya kadang terjadi 'salah ketik' informasi genetik dan ini yang disebut mutasi.

Semakin virus corona menyebar luas menginfeksi orang-orang maka akan semakin banyak mutasi yang bisa muncul.



Simak Video "Mutasi Virus Corona, Penelitan, dan Kelompoknya di Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)