Rabu, 06 Mei 2020 12:10 WIB

Corona di Indonesia Beda dari Tiga Tipe Utama di Dunia, Apa Dampaknya?

Firdaus Anwar - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Penelitian melihat virus Corona di Indonesia sudah bermutasi. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Virus Corona COVID-19 di Indonesia disebut berbeda dari tiga tipe utama dunia. Perbedaan tipe ini dijelaskan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro akibat virus sudah bermutasi.

"Ya. Dia beradaptasi, maka secara random dia bermutasi," kata Amin pada detikcom beberapa waktu lalu.

Mutasi adalah hal wajar bagi virus. Ini karena setiap virus menginfeksi sel maka akan ada kemungkinan 'kecacatan' dalam proses replikasi yang membuat genetiknya berbeda dari semula.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang meneliti genetik virus Corona dari tiga sampel pasien positif di Indonesia membagikan analisis salah satu penelitinya, Pradiptajati Kusuma. Pada intinya belum diketahui pasti apakah mutasi ini berdampak terhadap kemampuan virus.

"Perlu dipelajari bagaimana mutasi ini berakibat pada struktur protein virus tersebut dan fungsinya. Apakah mengubah fungsi atau tidak," tulis Pradiptajati seperti dikutip dari halaman Facebook Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada Rabu (6/5/2020).

Eijkman menyebut studi genetik virus Corona COVID-19 di Indonesia ini bisa bermanfaat terhadap proses pengembangan vaksin dan obat antivirus.



Simak Video "Disebut 10x Lebih Menular, Mutasi Corona D614G Ditemukan di 5 Kota RI"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)