Selasa, 12 Mei 2020 07:20 WIB

WHO Peringatkan Lonjakan Kasus Corona di Negara yang Longgarkan Lockdown

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Hingga kini Inggris memiliki 207 ribu kasus COVID-19 dan tertinggi keempat dunia. Tak ayal, petugas ambulans pun tampak sangat sibuk lalu lalang menjemput para pasien yang terjangkit Corona. Penyebaran virus Corona diduga akan makin banyak di negara yang longgarkan lockdown. (Foto: Getty Images/Leon Neal)
Jakarta -

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa beberapa negara tidak tahu risiko saat membuka kembali perekonomian negara tanpa adanya protokol yang jelas untuk penanganan virus Corona.

Peringatan ini datang setelah Prancis dan Belgia melonggarkan lockdown, Belanda mulai mengirim anak-anak kembali ke sekolah. Sejumlah negara bagian Amerika Serikat juga terus mencabut pelarangan dan pembatasan bahkan ketika angka kematian mencapai 80 ribu.

Lonjakan infeksi diprediksi akan hadir di wilayah yang terlalu cepat melonggarkan pembatasan. Bahkan di Jerman, terjadi lonjakan kasus dalam beberapa hari terakhir setelah membuka lockdown dan kelompok baru dikaitkan dengan tiga rumah potong hewan.

Hal ini juga terjadi di Wuhan dan di Korea Selatan, di mana satu pelanggan klub malam dihubungkan dengan 85 kasus baru. Pihak berwenang telah memperingatkan bahwa pelonggaran lockdown bisa berdampak pada ketidakmampuan pelacakan mereka yang terinfeksi.

Kepala Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan mengatakan langkah-langkah penelusuran kontak yang kuat bisa dicontoh dari Jerman dan Korea Selatan, yang mampu mengendalikan virus sebelum kasusnya melonjak besar. Namun dengan adanya lonjakan infeksi di kedua negara yang dianggap berhasil tersebut setelah pelonggaran lockdown dianggap akan mempersulit pengecekan dan akan memperluas penyebaran.

"Ini sama seperti memejamkan mata dan melewati ini dengan buta. Ini adalah persamaan paling konyol yang pernah saya lihat. Dan saya benar-benar khawatir negara tertentu sedang mempersiapkan diri untuk menjadi 'pengemudi buta' selama beberapa bulan ke depan," kata Ryan dikutip dari SCMP.



Simak Video "Sydney Cabut Lockdown: Bersiap Hidup Bareng Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)