Selasa, 12 Mei 2020 14:13 WIB

Hari Perawat Sedunia, Tengok Lagi Kisah Perawat Indonesia Perangi Corona

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Relawan perawat di RS Persahabatan. Hari Perawat Internasional, pahlawan Indonesia perangi corona. (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Hari ini, Selasa (12/5/2020), diperingati sebagai Hari Perawat Internasional. Begitu banyak jasa yang telah diberikan oleh para perawat demi kesehatan masyarakat, terlebih saat ini di tengah pandemi virus Corona COVID-19.

Berbagai macam kisah dari para perawat yang menangani pasien virus Corona telah menginspirasi masyarakat agar tetap optimis dalam menghadapi musibah penyakit ini. Tak sedikit pula perawat yang gugur akibat terinfeksi COVID-19.

Dirangkum detikcom, berikut ini adalah beberapa kisah yang dialami oleh para perawat selama menjadi garda terdepan dalam melawan virus Corona.

Baca juga: Jalani Ramadhan Jauh dari Keluarga, Perawat Ini Sedih Lihat Keramaian

1. Rela tinggalkan istri dan anak demi menjadi relawan

Yudha Adhi Prathama, seorang perawat asal Situbondo, Jawa Timur, rela meninggalkan istri dan anaknya yang masih berusia 4 tahun demi menjadi relawan COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta Pusat.

"Selama di RSDC Wisma Atlet, saya bertugas di lantai 29 dan bergabung di team swab. Yang saya lakukan ini semata-mata karena panggilan nurani, demi kemanusiaan," kata Yudha, Jumat (1/5/2020).

Yudha mengatakan ia merasa gelisah dan tidak tenang melihat hari demi hari jumlah kasus COVID-19 di Indonesia kian bertambah. Karena itu, begitu mendengar adanya rekrutmen relawan tim medis di Jakarta, Yudha tak mau buang waktu lagi.

"Saya malah langsung disuruh berangkat, setelah semua perizinan dari tempat saya berdinas di sini (Situbondo, red) sudah selesai. Waktu itu langsung saya urus. Alhamdulillah, izin cuti saya bisa segera keluar pada akhir Maret lalu," jelas Yudha.

2. Tahan rindu demi perangi virus Corona

Seorang wanita asal Sukabumi, Jawa Barat, bernama Dayantri Azhari yang bertugas menjadi perawat di RSDC Wisma Atlet membagikan pesan kerinduan tentang kampung halamannya. Dayantri bertugas merawat pasien sejak hari pertama Wisma Atlet disulap menjadi Rumah Sakit Darurat COVID-19 sejak akhir Maret lalu.

"Bismillah sudah hari ke 13 saya berada di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Jakarta. Semoga kota tercintaku warga-warganya sehat selalu dan semoga wabah ini segera berakhir. Saya sudah rindu pantai, senja dan ombak di sana. Saya sudah rindu makanan khas sana, dan saya sudah rindu dengan orang-orang terdekat saya. Tapi apa daya panggilan jiwa untuk menolong sesama lebih besar. Mohon doanya untuk saya dan pejuang-pejuang COVID lainnya agar diberikan kesehatan dan bisa pulang dengan wajah bahagia dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga," tulis Dayantri dalam postingan akun Facebook milikinya, Selasa (14/4/2020).

"Salam rindu dari salah satu pejuang garda depan," lanjutnya.

3. Sumbangkan gaji untuk warga korban pandemi COVID-19

Seorang perawat Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, Elisabet Wahyu Ajar Wulan, menyumbangkan gajinya untuk membantu warga terdampak pandemi virus Corona. Wahyu, sapaannya, menyumbangkan gaji bulan April kemarin melalui Sanggar Gadhung Mlati, Kabupaten Magelang.

"Saya tergerak untuk ikut berdonasi dengan apa yang saya bisa," ucap Wahyu, Sabtu (25/4/2020).

"Saya lihat banyak yang kehilangan pekerjaannya karena di PHK atau dirumahkan dan masih banyak lagi yang lain. Untuk itu, saya tergerak membantu sesama terkait dampak dari pandemi ini," lanjutnya.

Donasi tersebut diberikan Wahyu pada Jumat (24/4/2020) kemarin, saat sedang libur bertugas. Ia pun mengaku masih memiliki uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama sebulan ke depan.

"Untuk kebutuhan sebulan ke depan, saya pakai uang tabungan," tuturnya.

4. Haus saat bertugas tapi tak berani minum

Sebuah foto viral di media sosial menampilkan seorang perawat pasien COVID-19 menuliskan pesan 'Aji Ummi, aku haus tapi nggak berani minum'. Foto tersebut menunjukkan perawat menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap sambil memegang secarik kertas dengan pesan menyentuh.

Pria itu diketahui bernama Jufri, salah seorang perawat di RSUD Andi Makkasau, Sulawesi Selatan, yang tergabung dalam tim penanganan COVID-19. Ia menceritakan, apa yang dialaminya mungkin dirasakan juga oleh para perawat pasien virus Corona lainnya.

"Itu mungkin yang dialami seluruh paramedik ketika berada di ruang isolasi, di mana kita harus menahan lapar, harus, hingga BAB (buang air besar), dan BAK (buang air kecil) selama menggunakan pakaian hazmat," ucap Jufri, Rabu (8/4/2020).

5. Kulit keriput dan terluka akibat pakai APD

Seorang perawat berinisial I yang bertugas menangani pasien virus Corona di salah satu rumah sakit di Makassar, mengaku mengalami luka-luka di bagian kulitnya akibat penggunaan APD selama bertugas.

"Pakai APD itu kan panasnya luar biasa. Itu kalau kita buka, kita sudah mandi keringat. Tangan sudah putih mengkerut seperti sudah lama renang," kata I, Rabu (8/4/2020).

Tak hanya keringat yang didapatkan, tapi ada beberapa luka di wajahnya setelah menggunakan APD. Luka yang terlihat ada di bagian pipi dan juga hidung.

"Ada di daerah pipi dan hidung bekas masker. Tapi kalau saya pribadi paling terasa di hidung sampai muncul kaya jerawat. Jadi saya pakai hypafix untuk di bagian hidung supaya ndak langsung kena kulit," jelasnya.

6. Mendapat stigma dari masyarakat

Nurdiansyah, seorang perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso merasa kecewa dengan masih adanya stigma yang berkeliaran di antara masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Ia menyinggung masih banyak perawat yang merawat pasien virus Corona, yang terkena dampak akibat stigma negatif tersebut.

"Teman-teman kita, banyak sekali yang mengalami stigma yang negatif, ada teman-teman saya yang diusir dari kontrakan, ada teman-teman yang anaknya diasingkan dengan anak tetangganya," pungkas Nurdiansyah, Minggu (19/4/2020).



Simak Video "Virus Corona Bisa Serang Usus Meski Pernapasan Negatif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)