Selasa, 12 Mei 2020 16:30 WIB

Alasan Pemerintah Buka Penerbangan di Tengah PSBB, Izinkan Perjalanan Dinas

Firdaus Anwar - detikHealth
Kemenhub membuka kembali layanan penerbangan domestik dengan penumpang bersyarat. Bandara tersibuk di Indonesia, Soekarno Hatta kembali beroperasi. Penerbangan kembali dibuka untuk penumpang bersyarat. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, menjelaskan kebijakan membuka penerbangan serta jalur transportasi lainnya bukan upaya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ada alasan di baliknya.

Seperti diketahui sebelumnya beberapa hari lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali memberikan izin operasi untuk berbagai transportasi. Termasuk di dalamnya penerbangan domestik untuk penumpang bersyarat.

Achmad Yurianto menjelaskan pemberian izin transportasi itu salah satu tujuannya untuk membantu upaya penanganan virus Corona. Tanpa ada jalur transportasi yang baik maka arus pengiriman barang dan tenaga ahli dari satu daeraah ke daerah lain terganggu.

"Salah satu dampaknya pengiriman spesimen. Dari pengambilan sampel di daerah lain yang kebetulan jauh dari pusat pemeriksaan laboratorium jadi terhambat. Pengiriman obat, pengiriman alat, dan sebagainya untuk kepentingan penanggulangan covid jadi terhambat," kata Achmad Yurianto dalam siaran pers di kanal resmi milik BNPB, Selasa (12/5/2020).

"Atas dasar inilah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan pengecualian pada kelompok-kelompok barang, pada kelompok-kelompok orang, yang memang karena tugasnya dalam rangka mempercepat penanganan COVID-19 diizinkan untuk melaksanakan penerbangan perjalanan dinas," lanjutnya.

Pria yang akrab disapa Yuri ini kembali menegaskan tidak semua orang bisa melakukan perjalanan dan kebijakan membuka transportasi ini bukan upaya relaksasi PSBB.

"Saudara-saudara sekalian, ini yang kemudian tidak boleh kita maknai sebagai kebijakan relaksasi PSBB. Ini sama sekali bukan relaksasi PSBB. PSBB tetap kita jalankan dengan disiplin," pungkasnya.



Simak Video "IDI Sebut Hasil Negatif Palsu Bisa Jadi Lewat Rapid Test"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)