Rabu, 13 Mei 2020 10:33 WIB

Bukan Batuk, Diare Disebut Jadi Gejala Awal Virus Corona pada Anak

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pemerintah Yunani evakuasi ratusan migran dari kamp Moria di Pulau Lesbos. Kondisi anak-anak migran itu terlihat memprihantinkan di tengah pandemi COVID-19. Gejala umum infeksi Corona pada anak adalah diare. (Foto: Getty Images/Milos Bicanski)
Jakarta -

Penelitian menemukan batuk atau gejala pernapasan lainnya tak menjadi gejala awal virus Corona pada anak. Mereka memeriksa kasus lima anak yang dirawat di rumah sakit yang memiliki gejala saluran pencernaan dan didiagnosis mengidap pneumonia juga virus Corona.

Studi yang dilakukan di China dan diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Pediatrics menunjukkan bahwa gejala gastrointestinal atau diare pada anak dapat berarti infeksi masuk melalui saluran pencernaan. Para ilmuwan mengatakan mereka menemukan jenis reseptor virus yang menargetkan sel paru juga ditemukan di usus.

Penulis studi dr Wenbin Li dari departemen pediatrik Rumah Sakit Tongji, Wuhan, mengatakan hanya sebagian kecil anak yang terinfeksi COVID-19 dan beberapa kasus parah sering memiliki kondisi kesehatan lain yang mendasarinya. Oleh sebab itu sangat mudah melewatkan diagnosis pada tahap awal ketika seorang anak memiliki gejala non-pernapasan atau mengidap kondisi lain saat dibawa ke rumah sakit.

"Berdasarkan pengalaman kami berurusan dengan COVID-19 di daerah epidemi, anak-anak yang menderita gejala saluran pencernaan terutama dengan demam atau riwayat terpapar harus dicurigai terinfeksi virus ini," katanya dikutip dari The Sun.

Untuk penelitian ini, Dr Li dan timnya menganalisis kondisi klinis anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan gejala non-pernapasan tetapi kemudian didiagnosis dengan pneumonia dan Covid-19. Sementara gejala awal pada anak tergolong ringan, dalam studi tersebut dilaporkan empat dari lima anak yang datang ke rumah sakit mengalami sakit perut sebagai gejala awal virus Corona.

Dr Li mengatakan bahwa dengan menyoroti kasus-kasus ini, ia berharap bahwa dokter akan dapat menggunakan informasi tersebut untuk dengan cepat mendiagnosis dan mengisolasi pasien dengan gejala yang sama. Diharapkan hal ini dapat membantu dalam perawatan dini dan mengurangi penularan.

"Anak-anak ini mencari pertolongan medis di unit gawat darurat untuk masalah yang tidak terkait, misalnya, satu memiliki batu ginjal, yang lain adalah trauma kepala. Namun semua memiliki pneumonia saat dilakukan CT scan dada dan kemudian dikonfirmasi memiliki COVID-19," pungkasnya.



Simak Video "Punya Gejala Demam Tinggi, Ini Beda DBD dan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)