Kamis, 14 Mei 2020 09:36 WIB

Ratusan Anak Alami Sindrom Langka, Diduga Berkaitan dengan Virus Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Positive blood test result for the new rapidly spreading Coronavirus, originating in Wuhan, China Ratusan anak alami sindrom langka diduga berkaitan dengan Corona. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Seratus anak di Inggris dilaporkan mengidap sindrom langka yang diduga ada kaitannya dengan virus Corona COVID-19. Sebagian besar anak-anak tersebut berada di rentang usia lima hingga 16 tahun.

Sebelumnya, dokter di layanan kesehatan Inggris memberi peringatan soal munculnya lonjakan kasus anak-anak dengan sindrom inflamasi baru yang mengancam nyawa, bulan lalu. Sejak itu, para ahli langsung melakukan penelitian, diperkirakan dari data yang diterima, hal ini telah mempengaruhi antara 75 dan 100 anak-anak di Inggris, termasuk bocah lelaki berusia 14 tahun yang sebelumnya dilaporkan meninggal dunia.

dr Liz Whittaker, seorang dosen klinis penyakit infeksi anak dan imunologi di Imperial College London, mengatakan dari data yang dikumpulkan dalam dua minggu, tampaknya puncak sindrom baru ini berada di belakang puncak virus Corona COVID-19 sekitar dua hingga tiga minggu.

"Salah satu hal yang cukup menarik adalah bahwa puncak yang kita lihat pada anak-anak ini adalah beberapa minggu setelah puncak COVID-19 di seluruh negeri," jelas dr Whittaker di sebuah briefing media sains, dikutip dari The Sun pada Kamis (14/5/2020).

"Kami memperkirakan di London bahwa puncak COVID-19 adalah sekitar minggu pertama hingga kedua pada bulan April, sedangkan kami pikir kami melihat puncak anak-anak ini minggu lalu dan minggu ini," kata dr Whittaker.

dr Whittaker mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak dites negatif untuk COVID-19, tetapi semuanya memiliki antibodi positif terhadap virus. Dia menyarankan bahwa ini dapat menunjukkan beberapa anak memiliki respons yang tertunda terhadap virus beberapa minggu setelah terinfeksi.

"Kami menyebutnya sindrom multi-sistem inflamasi anak, yang untuk sementara dikaitkan dengan SARS-CoV-2 atau COVID-19," katanya.

"Kami sangat berhati-hati untuk melakukannya karena kami tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa setiap anak memiliki COVID-19 pada saat mereka tidak sehat. Tetapi fenomena baru ini terjadi di tengah pandemi sehingga tampaknya cukup masuk akal untuk menyarankan bahwa kedua hal tersebut saling berkaitan," ujar dr Whittaker.

Berdasarkan data awal yang tersedia, para ahli menemukan bahwa anak-anak yang dirawat di rumah sakit memiliki gejala yang mirip dengan penyakit kawasaki seperti berikut:

- Ruam
- Kelenjar bengkak di leher
- Bibir kering dan pecah-pecah
- Jari tangan atau kaki merah
- Mata merah

dr Liz Whittaker, dari Imperial College London, yang telah merawat beberapa anak mencatat bahwa mereka juga memiliki beberapa gejala lain. Disebutkan, umumnya anak-anak yang mengalami kondisi tersebut awalnya datang dengan keluhan demam tinggi selama beberapa hari.

"Sebagian besar dari mereka mengalami sakit perut akut dan diare parah dan beberapa dari mereka memiliki gejala lain seperti ruam dan mata merah dan bibir merah," tutur dr Whittaker.

"Sekelompok kecil anak-anak ini mengembangkan sesuatu yang disebut syok, yang bisa mempengaruhi jantung. Anak-anak itu menjadi sangat tidak sehat sehingga tangan dan kaki mereka begitu dingin, dan bernapas dengan sangat cepat," pungkasnya.



Simak Video "WHO Kunjungi China Pekan Ini untuk Telusuri Asal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)