Senin, 18 Mei 2020 18:38 WIB

Ahli Ingatkan Lonjakan Kasus Positif Corona Jika PSBB Dilonggarkan

Muhammad Anjar Mahardhika - detikHealth
Anggota TNI dan Polri menggunakan helm menyerupai bentuk virus Corona saat sosialisasi penggunaan masker di Jalan KH Wahid Hasyim, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Jumat (17/4/2020). Polisi bersama TNI di Kabupaten Jombang mengimbau agar masyarakat tetap tinggal di rumah dan selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar untuk memutus rantai penyebaran virus COVID-19. ANTARA FOTO/Syaiful Arif/wsj. Penambahan kasus virus Corona di Indonesia masih tinggi. (Foto: ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF)
Jakarta -

Dalam rapat terbatasnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan belum membuat kebijakan terkait pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan pelonggaran tersebut baru sebatas skenario dan menunggu waktu yang tepat penerapannya.

Kepala Departemen Epiedemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menyarankan agar pemerintah tidak melonggarkan PSBB di tengah penambahan kasus yang masih tinggi.

Menurutnya prediksi puncak wabah virus Corona di Indonesia dapat bergeser semakin lama ketika kebijakan PSBB dilonggarkan. Terlebih belum terdapat aturan yang jelas mengenai syarat dilonggarkannya PSBB.

Semula Miko memprediksi bahwa puncak wabah Corona di Indonesia akan terjadi Pada Juli.

"Saya perkirakan kasusnya 60-an ribu sampai bulan Juni. Puncaknya Juli kalau saya perkirakan," ungkap Miko saat dihubungi detikcom pada Senin (18/5/2020).

"Tapi tidak diperlonggar sampai bulan Juli. Kalau diperlonggar lagi akan lama lagi, mungkin Agustus atau September," lanjutnya.

Ia mengingatkan akan terjadi lonjakan kasus yang signifikan apabila pelonggaran PSBB dilakukan. Terlebih tren penambahan kasus di Indonesia masih terbilang tinggi hingga saat ini.

"Risikonya kasus ratusan ribu, kalau deteksinya ditingkatkan kemudian bisa 200 hingga 300 ribu," pungkasnya.



Simak Video "Angka Positif Corona di Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)