Rabu, 20 Mei 2020 10:30 WIB

Saat Ilmuwan Sudah Lelah Menjelaskan Virus Corona Bukan Buatan Manusia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Manuel Sotelo III adalah salah satu tim medis yang terus berjuang menangani pasien Corona di Filipina. Begini potret kesehariannya. Ilmuwan tegaskan Corona bukan ciptaan manusia. (Foto: AP/Aaron Favila)
Jakarta -

Saat pandemi virus Corona menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia, muncul spekulasi bahwa penyakit tersebut 'diciptakan' oleh manusia dan direkayasa secara genetik di laboratorium. Meski telah berkali dibantah, namun rumor ini seperti tak pernah habis dibahas.

Para ilmuwan dengan tegas mengatakan bahwa COVID-19 bukan buatan manusia meski asal usul virus Corona masih terus ditelusuri.

Diskusi mengenai rumor soal virus Corona buatan manusia makin menjadi setelah pejabat intelejen AS dilaporkan menyelidiki sumber potensi pandemi tersebut, dengan fokus pada teori bahwa COVID-19 mungkin berasal dari laboratorium.

"Semua bukti sejauh ini menunjuk pada fakta bahwa virus COVID-19 terbentuk secara alami dan bukan buatan manusia," jelas ahli imunologi Nigel McMillan dari Menzies Health Institute Queensland dikutip dari Science Alert.

Pada akhir Maret, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine menyelidiki data genom SARS-CoV-2 khususnya pada bagian reseptor virus (RBD) untuk melihat bagaimana virus bermutasi ke dalam versi yang mematikan. Studi tersebut juga menjelaskan bahwa SARS-CoV-2 tidak bisa dimanipulasi secara genetik.

Meski jelas bahwa virus Corona tidak diciptakan di laboratorium, ada kekhawatiran bahwa virus tersebut 'lolos' dari fasilitas penelitian yang sebagian besar diarahkan pada Institut Virologi Wuhan. Pejabat kedutaan AS mengklaim bahwa terdapat masalah keamanan pada lab tersebut di tahun 2018 dan institut tersebut menyimpan virus COVID-19.

"Kerabat terdekat SARS-CoV-2 yang diketahui adalah kelelawar bernama RaTG13 yang disimpan di Institut Virologi Wuhan. Ada beberapa spekulasi tidak berdasar bahwa kelelawar itu adalah sumber pertama dari SARS-CoV-2," jelas ahli virologi evolusi Edward Holmes dari University of Sydney.

"Namun, RaTG13 diambil sampelnya di Yunnan dan bukan di tempat pertama kali virus Corona muncul (Wuhan). Selain itu ada perbedaan urutan genom antara SARS-CoV-2 dan RaTG13 yang setara dengan 50 tahun perubahan evolusioner," imbuhnhya,

Sekarang, penting untuk dicatat bahwa virus dapat bermutasi secara alami di mana saja, baik pada inang hewan, pada manusia, atau bahkan dalam kultur sel laboratorium. Sayangnya, sulit untuk menentukan di mana dan bagaimana coronavirus baru memperoleh mutasinya, meskipun sebagian besar peneliti berpikir proses tersebut melibatkan hewan inang.

Lembaga yang menjadi pusat kontroversi itu berulang kali membantah tuduhan sebagai sumber pandemi. Kembali pada bulan Maret, kepala penelitian kelelawar virus Corona di Institut Virologi Wuhan, Shi Zhengli, menjelaskan bahwa ketika ia pertama kali menerima sampel dari pasien COVID-19, ia segera melakukan penyelidikan menyeluruh di departemennya dan menemukan tidak ada kecocokan antara virus yang ia kerjakan di laboratoriumnya dan pada pasien COVID-19.

Apa yang para ahli sepakati adalah bahwa pandemi ini adalah hal yang tidak mengejutkan. Ilmuwan telah memperingatkan pemerintah selama bertahun-tahun akan adanya potensi pandemi baru dan banyak negara sangat tidak siap.

"Kami telah menyadari selama beberapa waktu bahwa coronavirus lain, seperti SARS dan MERS sebelumnya, dapat menyebabkan pandemi, dan dalam banyak hal, munculnya virus Corona baru dengan potensi pandemi bukanlah kejutan," jelas Hassan Vally dari Universitas La Trobe epidemiolog.



Simak Video "Kenali Gejala Harian Virus Corona hingga Proses Penularan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)