Senin, 25 Mei 2020 08:33 WIB

Adik Via Vallen Positif Corona, Ini Bedanya Rapid Test, TCM, dan Swab PCR

Firdaus Anwar - detikHealth
Via Vallen Via Vallen mengaku adiknya positif terinfeksi virus Corona. (Foto: Palevi/detikHOT)
Jakarta -

Penyanyi Via Vallen mengabarkan adiknya positif terinfeksi virus Corona COVID-19. Menariknya hal ini diketahui setelah sang adik didorong melakukan tes swab.

Lewat unggahan di Instagram, Via Vallen bercerita bahwa awalnya sang adik diketahui memiliki tanda-tanda pneumonia ketika memeriksakan diri ke dokter. Khawatir itu gejala infeksi virus Corona, ia lalu melakukan rapid test dengan hasil non-reaktif (negatif).

"Aku tanya ada lagi tes buat mastiin Corona ngga? Kata beberapa suster di sana ada swab, tapi ini enggak perlu karena rapidnya sudah akurat. Emang uangnya mbak, swab mahal loh dan hasilnya lama," kata Via Vallen seperti dikutip pada Senin (25/5/2020)

"Karena aku pengen memastikan 100 persen dia baik-baik saja, ya aku maksa aja dia swab dengan ngejanjiin kalau hasilnya negatif aku kasih uang jajan. Karena sebenarnya dia enggak mau diswab. Akhirnya dia mau. Setelah menunggu 10 hari, ternyata hasilnya positif," lanjut Via Vallen.

Cerita Via Vallen kembali mendorong perhatian netizen terkait beda rapid test dengan tes swab. Via Vallen khususnya menyebut menjalani tes TCM yang biasanya digunakan untuk pasien penyakit tuberkolosis (TB), sebagai pelengkap tes swab yang menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).

Berikut penjelasannya:

Rapid Test

Pemeriksaan rapid test menggunakan sampel darah. Seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah yang dideteksi dengan rapid test.

Rapid test bisa dilakukan di mana saja dan hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya dengan menggunakan kit. Kelemahannya adalah bisa menghasilkan 'false negative' yakni ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi jika rapid test dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

TCM

TCM sebelumnya dikenal untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) berdasarkan pemeriksaan molekuler. Pemeriksaan pada TCM ini menggunakan dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge. Tes ini akan mengidentifikasi RNA pada virus corona pada mesin yang menggunakan cartridge khusus yang bisa mendeteksi virus ini.

Hasil tes TCM ini dapat diketahui dalam waktu kurang dari dua jam, untuk menentukan pasien positif maupun negatif.

PCR

Jenis pemeriksaan ini menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi.

Virus yang aktif memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA. Pada virus corona, material genetiknya adalah RNA. Nah, RNA inilah yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi.

PCR menjadi tes diagnosis standar di seluruh dunia untuk menegakkan diagnosis infeksi virus Corona COVID-19.

Pemeriksaan PCR jelas membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasil karena hanya dapat dilakukan di laboratorium yang sudah ditunjuk pemerintah.



Simak Video "Ilmuwan Jerman Pamerkan Alat Uji Corona Baru yang Lebih Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)