Senin, 25 Mei 2020 12:10 WIB

Kata Ahli Jiwa Soal PSBB yang Sulit Ubah Perilaku Masyarakat Indonesia

Firdaus Anwar - detikHealth
Warga Sidoarjo dan Gresik yang hendak silaturahmi Lebaran pada sanak saudara di Surabaya harus gigit jari. Mereka diminta petugas PSBB untuk putar balik. Warga yang hendak silaturahmi ke Surabaya diarahkan petugas PSBB untuk kembali. (Foto: Faiq Azmi)
Jakarta -

Protokol kesehatan dalam pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat sehingga bisa menjalani hidup normal baru di tengah pandemi Corona. Ahli jiwa berkomentar, dari situasi terakhir yang berkembang PSBB bisa dibilang gagal sebagai terapi perilaku.

dr Andri, SpKJ, FACLP, dari Omni Hospitals Alam Sutera mengatakan ramainya pemberitaan soal orang-orang yang mudik, berbelanja baju di pasar, hingga berkumpul jadi tanda masyarakat tidak begitu paham makna protokol kesehatan dalam PSBB.

Dalam ilmu psikologi dan psikiatri, terapi perilaku biasa dilakukan untuk menerapkan sebuah kebiasaan atau perilaku baru. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

"Hal ini sebenarnya sama dengan PSBB. Anjuran dan segala macam larangan telah diterapkan, namun sebagian besar masyarakat tidak paham mengapa harus pakai masker, menjaga jarak dan di rumah saja. Mereka mungkin berpikir apa sebenarnya untungnya buat mereka dengan melakukan semua itu. Maka ketika dilonggarkan, semua aturan PSBB dilanggar," kata dr Andri.

"Artinya dalam hal ini PSBB bagi sebagian masyarakat telah gagal menjadi suatu proses terapi perilaku," lanjutnya.

Mengapa PSBB gagal mengubah sebagian besar perilaku masyarakat? dr Andri menyebut ada beberapa kemungkinan, di antaranya bisa karena masih rendah tingkat kepedulian hingga rasa ingin menang sendiri.

Artinya dengan kondisi seperti ini ada kekhawatiran bisa terjadi peningkatan kasus infeksi ketika masa darurat Corona berakhir pada tanggal 29 Mei.

"Maka agak sulit sebenarnya untuk menghadapi new normal ke depannya. Bagaimana kita bisa new normal karena kalau kita pakai masker aja sembarangan... Ada yang hidungnya masih kelihatan, ada yang asal cantel, atau ada yang mulutnya masih terbuka cuma taruh di dagu. Ini saja belum bisa kita lakukan dengan benar," ungkap dr Andri di kanal Youtube-nya, Andri Psikosomatik.

Memang tidak semua abai terhadap protokol kesehatan. Untuk itu dr Andri mengajak agar masyarakat terus berupaya lebih serius lagi menjaga kesehatan demi diri sendiri dan orang-orang terdekat.

"Tentunya kita harus tetap berikhtiar. Bagaimanapun harus menjaga kesehatan tubuh kita dengan baik dengan melakukan langkah-langkah yang memang sudah terbukti bisa membantu kita mengurangi kemungkinan terkena virus COVID-19 ini," pungkas dr Andri.



Simak Video "Panduan Beraktivitas di Ruang Publik Era New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)