Selasa, 26 Mei 2020 11:43 WIB

Studi Sebut Mutasi Virus Corona Tak Tingkatkan Penularannya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona Ilustrasi mutasi Corona. (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Studi yang dipimpin University College London menyebut mutasi virus Corona tak tingkatkan karakteristik penularan virus. "Tak satupun dari mutasi yang saat ini didokumentasikan dalam virus SARS-CoV-2 tampaknya meningkatkan penularannya," sebut penelitian UCL.

Dikutip dari Medical Xpress, temuan ini berdasarkan studi peer-review yang diterbitkan dalam Infection, Genetics, dan Evolution awal bulan ini soal pola keragaman dalam genom SARS-CoV-2. Virus Corona yang menyebabkan pandemi penyakit COVID-19.

"Semakin banyak mutasi telah didokumentasikan, para ilmuwan dengan cepat berusaha mencari tahu apakah ada di antara mereka yang dapat membuat virus lebih menular atau mematikan, karena sangat penting untuk memahami perubahan seperti itu. Secepat mungkin," kata penulis utama Profesor Francois Balloux UCL Genetics Institute.

"Kami menggunakan teknik baru untuk menentukan apakah virus dengan mutasi baru benar-benar ditularkan pada tingkat yang lebih tinggi, dan menemukan bahwa tidak ada kandidat mutasi yang tampaknya menguntungkan virus," lanjut prof Francois.

Tim peneliti dari UCL, Cirad, dan Université de la Réunion, University of Oxford, sejauh ini telah mengidentifikasi 6.822 mutasi dalam SARS-CoV-2 di seluruh data global. Untuk 273 mutasi, ada bukti kuat bahwa mereka telah mutasi berulang kali secara independen.

Dari 273 mutasi tersebut, para ahli meneliti 31 mutasi virus Corona telah terjadi setidaknya 10 kali secara independen selama pandemi. Hasilnya, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa mutasi umum ini meningkatkan penularan virus.

Mutasi yang dianalisis termasuk satu dalam protein lonjakan virus yang disebut D614G. D614G ini telah banyak dilaporkan sebagai mutasi umum yang dapat membuat virus lebih mudah menular. Bukti baru menemukan bahwa mutasi ini sebenarnya tidak terkait dengan peningkatan penularan virus.

"Hanya diharapkan bahwa virus akan bermutasi dan akhirnya menyimpang menjadi garis keturunan yang berbeda karena menjadi lebih umum pada populasi manusia, tetapi ini tidak selalu menyiratkan bahwa ada garis keturunan apa pun akan muncul yang lebih mudah menular atau berbahaya," ungkap penulis penelitian, dr Lucy van Dorp dari UCL Genetics Institute.



Simak Video "Pemeriksaan Spesimen Covid-19 di Indonesia Capai Rekor Tertinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)