Kamis, 28 Mei 2020 21:08 WIB

Tim Pakar Gugus Tugas Sebut RI Hentikan Klorokuin pada Pasien Uji Coba WHO

Firdaus Anwar - detikHealth
ilustrasi obat Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sudah hentikan klorokuin pada pasien uji coba WHO. (Foto: iStock)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya dilaporkan meminta Indonesia untuk menghentikan pemberian obat klorokuin dan hidroklorokuin pada pasien Corona COVID-19. Alasannya karena data penelitian yang dipublikasi di jurnal The Lancet melihat obat ini tidak bermanfaat menyembuhkan pasien, malah tingkatkan risiko kematian.

"Kelompok Eksekutif telah memutuskan menghentikan sementara penggunaan hidroklorokuin dalam Solidarity Trial, sementara data dianalisa oleh Dewan Pengawas Keamanan Data," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Solidarity Trial adalah nama program yang dikelola WHO untuk mempercepat pengembangan obat dan vaksin virus Corona COVID-19. Negara yang bergabung dalam program tersebut saling berbagi data eksperimen yang dilakukan.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan Indonesia sudah menghentikan pemberian obat klorokuin pada pasien dalam Solidarity Trial. Penghentian ini baru dilakukan dalam lingkup uji coba medis WHO.

"Indonesia adalah bagian dari penerapan Solidarity Trial, karena itu Indonesia ikuti instruksi WHO untuk klorokuin," ujar Wiku seperti dikutip dari kantor berita Antara.

"Untuk trial, WHO menghentikan. Kalau bukan untuk trial, kami belum mengetahui," katanya.

Sementara itu, spesialis paru-paru dr Erlina Burhan, SpP(K), MSc, dari RSUP Persahabatan menjelaskan dokter masih memakai klorokuin untuk pasien Corona lain. Alasannya karena para ahli di Indonesia juga masih menjalankan studi sendiri.

"WHO itu berdasarkan jurnal Lancet yang katanya hidroklorokuin tidak bermanfaat," kata dr Erlina pada detikcom, Kamis (28/5/2020).

"Tapi kita kan masih perlu meneliti data kita sendiri. Karena data yang di jurnal itu kan data orang luar. Kita lihat apakah Indonesia seperti itu? Kalau di Indonesia bermanfaat ya kita terus aja," lanjutnya.

dr Erlina mengatakan ada perbedaan metode pemberian obat yang dilakukan pada pasien di Solidarity Trial dengan pasien Corona lain. Dalam laporan di The Lancet obat cenderung diberikan dengan dosis tinggi dan jangka waktu relatif panjang, sementara pasien Corona lainnya di Indonesia diberi obat dalam dosis rendah selama lima hari.

"Jadi kita sampai saat ini masih memakai untuk pasien biasa. Tapi pasien penelitiannya WHO ya kita enggak pakai," pungkasnya.

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Alasan WHO Minta Penggunaan Klorokuin untuk Pasien COVID-19 Disetop"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)