Jumat, 29 Mei 2020 11:00 WIB

Negara Ini Pakai Data Genom Corona untuk Cegah Gelombang 2 COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona Negara ini pakai data genom Corona untuk cegah gelombang kedua. (Foto ilustrasi: BBC Magazine)
Jakarta -

Menyusul banyaknya negara mulai melonggarkan lockdown, para peneliti menggunakan data genome sequencing untuk menghindari terjadinya gelombang kedua infeksi COVID-19.

Melansir Nature, sejak urutan genom pertama dari virus Corona baru atau SARS-CoV-2 dibagikan pada 11 Januari, para ilmuwan telah merangkai dan berbagi sekitar 32 ribu genom virus dari seluruh dunia. Sejumlah besar data in memungkinkan para ahli melacak asal usul wabah COVID-19 di negara mereka dan menunjukkan kapan transmisi lokal terjadi.

Genom sekuensing atau Whole Genome Sequencing (WGS) adalah prosedur laboratorium untuk menentukan urutan basa dalam genom organisme dalam satu proses. Dengan membandingkan urutan genom, peneliti dapat dengan cepat mengesampingkan kemungkinan jalur transmisi jika dua urutan tidak cocok atau menghubungkan kasus-kasus yang cocok.

Sekarang, beberapa negara-negara yang telah berhasil menekan infeksi memasuki fase berikutnya dari pandemi COVID-19, yakni risiko kasus baru muncul karena pembatasan sosial mereda. Peneliti mengatakan bahwa data genom akan sangat penting dalam pelacakan dan pengendalian wabah dengan cepat.

"Ketika ada kasus, data genom dapat dengan cepat memberi tahu Anda apa yang Anda hadapi," kata Gytis Dudas, bioinformatika konsultan di Pusat Global Geodiversity Gothenburg di Swedia.

Australia dan Selandia Baru telah menggunakan data genom untuk melacak keberadaan virus Corona. Selain itu, peneliti di Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara lain juga melakukan pengurutan genom SARS-CoV-2 namun masih belum berhasil karena epidemi di negara tersebut masih berlangsung dan jumlah infeksinya cukup tinggi.

"Tanpa genomik dan hanya wawancara, Anda tidak akan pernah tahu (virus) yang mana itu," kata Torsten Seemann, seorang bioinformatika di Institut Doherty untuk Infeksi dan Imunitas Melbourne.

Seemann mengatakan pihaknya sedang bersiap untuk menggunakan data genom untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan asal kasus baru yang muncul menyusul pelonggaran pembatasan sosial di beberapa wilayah Australia.



Simak Video "Respons Tubuh Terhadap Infeksi Virus Corona COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)