Jumat, 29 Mei 2020 18:07 WIB

Saran Ahli Gizi UNS Soal Tradisi Kupatan di Tengah Pandemi

Bayu Ardi Isnanto - detikHealth
Sejumlah pedagang di Kudus gelar lapak untuk berjualan janur jelang Lebaran Ketupat. Tak sedikit warga yang datang untuk berbelanja janur dari para pedagang itu Ilustrasi pedagang ketupat (Foto: Dian Utoro Aji)
Solo -

Mewabahnya virus Corona membuat masyarakat yang memiliki tradisi kupatan di bulan Syawal harus lebih waspada. Dikhawatirkan, tempat penjualan ketupat yang biasa ramai diserbu pembeli dapat menjadi sumber penularan COVID-19.

Tak hanya ketupat, bahan-bahan untuk membuat ketupat, seperti janur, juga harus diperhatikan kebersihannya. Ahli gizi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Diffah Hanim, menyarankan agar lebih baik masyarakat membuat ketupat sendiri.

"Lebih baik membuat ketupat sendiri, jadi kita bisa memastikan kebersihannya. Janur yang dijual di pasar itu kita bersihkan dahulu," kata Diffah saat dihubungi detikcom, Jumat (29/5/2020).

Tentunya membuat ketupat sendiri adalah hal yang tidak mudah. Alternatif lain yang mungkin bisa dicoba ialah membuat lontong.

"Tapi karena kaitannya dengan tradisi, tentu tidak bisa lepas begitu saja. Namun yang terpenting ialah menjaga kebersihan," katanya.

Untuk bisa memperkuat antibodi, Diffah mengingatkan agar makanan yang disajikan saat kupatan juga dilengkapi sayur dan buah. Selain itu, telur, juga wajib disajikan sebagai lauknya.

"Sayur mungkin bisa pakai labu siam, cocok untuk ketupat. Telur itu wajib, terutama bagian putihnya karena bagus meningkatkan antibodi," ujar dia.

Selebihnya, dia mengingatkan agar masyarakat selalu menjaga jarak ketika berbelanja kebutuhan untuk tradisi kupatan. Baik pedagang maupun pembeli wajib mengenakan masker untuk mencegah penyebaran virus Corona.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)