Jumat, 05 Jun 2020 11:51 WIB

Hipertensi, Penyakit yang Picu Kematian Pasien Virus Corona

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Hipertensi Pasien Corona dengan riwayat hipertensi berisiko meninggal. (Ilustrasi: shutterstock)
Jakarta -

Pasien yang memiliki riwayat tekanan darah yang tinggi dua kali lebih berisiko meninggal karena infeksi virus Corona COVID-19. Dalam European Heart Journal, hal ini mungkin terjadi pada penderita hipertensi yang tidak mengkonsumsi obatnya dengan teratur.

"Penting bagi pasien dengan tekanan darah tinggi untuk menyadari mereka berisiko lebih tinggi meninggal dunia akibat infeksi COVID-19," kata ahli jantung di Rumah Sakit Xijing di Xian, China, Fei Li yang dikutip dari The Straits Times, Jumat (5/6/2020).

Para peneliti dari China dan Irlandia memeriksa kasus pasien yang dirawat di Rumah Sakit Huoshenshan di Wuhan, antara 5 Februari dan 15 Maret. Hasilnya, hampir 30 persen yang setara dengan 850 pasien COVID-19 memiliki riwayat hipertensi. Mereka menemukan empat persen (34 orang) dari 850 pasien hipertensi meninggal, dibandingkan dengan satu persen (22 orang) dari 2.027 pasien tanpa hipertensi.

Hasilnya, ada peningkatan risiko 2,12 kali lipat setelah disesuaikan dengan faktor yang mempengaruhinya, antara lain usia, jenis kelamin, dan kondisi medis lainnya. Di penelitian yang berbeda yang mencangkup 2.300 pasien COVID-19 di rumah sakit yang sama, para peneliti juga menyelidiki dampak berbagai obat pengontrol hipertensi terhadap tingkat kematian.

Bertentangan dengan itu, mereka menemukan bahwa jenis obat yang diketahui sebagai inhibitor RASS, yang meliputi angiotensin perubahan dari enzim inhibitor (ACE) dan penghambat reseptor angiotensin (ARB), tidak berkaitan dengan tingginya tingkat kematian akibat COVID-19. Meskipun risikonya terlihat agak berkurang.

Seorang profesor di Rumah Sakit Xijing, Ling Tao, pun juga menyarankan untuk tidak berhenti atau mengganti obat anti-hipertensi yang biasa dikonsumsi.

"Kami menyarankan agar pasien tidak menghentikan atau mengubah obat anti-hipertensi yang biasa dikonsumsi, kecuali memang diinstruksikan oleh dokter," ujarnya.

Para peneliti juga menegaskan bahwa penelitian ini dilakukan secara observasional dan tidak berdasarkan pada uji klinis. Berarti, dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mempertegasnya.



Simak Video "Virus Corona Bisa Serang Usus Meski Pernapasan Negatif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)