Jumat, 05 Jun 2020 13:57 WIB

Studi Bahaya Klorokuin Ditarik, PDPI: Tak Ada Kenaikan Risiko Kematian di RI

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
ilustrasi minum vitamin PDPI sebut tak ada kenaikan risiko kematian pasien Corona yang diberi klorokuin. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat meminta Indonesia untuk menghentikan riset k dan hidroksiklorokuin bagi pasien Corona karena dianggap meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19. Permintaan ini didasari hasil riset di jurnal The Lancet, yang belakangan ditarik karena dinilai meragukan.

Menanggapi, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan untuk Solidarity, riset klorokuin memang ditunda namun pemberian klorokuin tetap dilanjutkan.

Para ahli di Indonesia yang melakukan studi sendiri melihat tidak terjadi kenaikan risiko kematian dan kefatalan pasien COVID-19 yang diberikan klorokuin maupun hidroksiklorokuin. Dalam studi awal, para ahli melihat 500 pasien COVID-19 baik yang diberikan klorokuin dan hidroksiklorokuin maupun tidak.

Hasilnya, klorokuin atau hidroksiklorokuin tidak terbukti meningkatkan risiko kematian.

"Hasilnya klorokuin tidak meningkatkan risiko kematian. Memang ini belum final, tapi gambaran awal dari pasien yang dikumpulkan seperti itu," tutur dr Agus saat dihubungi detikcom, Jumat (5/6/2020).

Data tersebut diambil dari 10 daerah di Indonesia di antaranya Aceh, Banten, DKI Jakarta, Medan, Riau, Padang, Solo, Surabaya, Malang, dan Bali.

Menyoal ditariknya salah satu studi yang diterbitkan dalam jurnal medis terkemuka, The Lancet, berjudul 'Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis', dr Agus menyebut keputusan Indonesia sudah tepat tetap memberikan klorokuin pada pasien Corona.

"Berarti statement PDPI sudah benar tentunya bahwa kita tidak menyetop penggunaannya di luar Solidarity. Karena data yang ada di kami menunjukkan tidak adanya kenaikan risiko kematian dan tidak terlihat di pasien Indonesia," pungkas dr Agus.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penggunaan Klorokuin untuk Pasien COVID-19 Disetop"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)