Jumat, 05 Jun 2020 17:37 WIB

Fakta-fakta Klorokuin, 'Obat Corona' yang Risetnya Kontroversial

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi obat Fakta-fakta soal klorokuin, obat Corona yang kontroversial. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Klorokuin, obat malaria yang dipakai untuk mengobati pasien Corona sempat heboh diperbincangkan karena risetnya dihentikan organisasi kesehatan dunia (WHO). Pasalnya, hasil studi yang sebelumnya mengatakan hidroksiklorokuin dan klorokuin berbahaya, kini ditarik dari jurnal medis usai validitas datanya diragukan.

Bahkan, organisasi kesehatan dunia (WHO) sempat mendesak Indonesia untuk menghentikan penggunaan klorokuin bagi pasien Corona. Berikut fakta-fakta soal klorokuin:

1. Sempat Disetop WHO untuk Uji Coba

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menghentikan sementara uji klinis pengobatan pasien Corona dengan obat malaria seperti hydroksiklorokuin dan klorokuin. Alasannya karena demi keamanan pasien Corona.

Keputusan WHO ini berdasarkan sebuah studi yang terbit dalam jurnal The Lancet. Ditemukan pasien Corona yang mengkonsumsi obat malaria alami masalah pada jantung bahkan risiko kematian.

"Kelompok eksekutif menetapkan menghentikan sementara hydroxychloroquine dalam uji coba, sementara data keselamatan ditinjau oleh Dewan Pemantau Keamanan Data," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual dikutip dari AFP, Selasa (26/5/2020).

2. WHO Desak Indonesia Setop Klorokuin

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak Indonesia untuk setop penggunaan klorokuin sebagai obat Corona. Sebelumnya WHO sendiri diketahui tak melanjutkan uji klinis obat malaria ini untuk pengobatan pasien Corona.

Dikutip dari Reuters, desakan ini disampaikan untuk menunda pengobatan obat malaria klorokuin karena masalah keamanan, jelas sumber yang tidak disebut namanya kepada Reuters, Selasa (27/5/2020).

Sumber anonim ini mengatakan WHO sebetulnya telah mengirim pemberitahuan kepada kementerian kesehatan Indonesia untuk menunda pengobatan memakai obat klorokuin.

3. Tak Ada Kenaikan Risiko Kematian di RI

Para ahli di Indonesia yang melakukan studi sendiri melihat tidak terjadi kenaikan risiko kematian dan kefatalan pasien COVID-19 yang diberikan klorokuin maupun hidroksiklorokuin. Dalam studi awal, para ahli melihat 500 pasien COVID-19 baik yang diberikan klorokuin dan hidroksiklorokuin maupun tidak.

Hasilnya, risiko kematiannya tidak jauh berbeda. Artinya klorokuin atau hidroksiklorokuin tidak terbukti meningkatkan risiko kematian.

"Yang dapat atau tidak, risiko kematiannya sama. Memang ini belum final, tapi gambaran awal dari sekitar 500 pasien yang dikumpulan seperti itu," tutur dr Agus saat dihubungi detikcom, Jumat (5/6/2020).

4. Batasan Pemberian Klorokuin di Indonesia

Di Indonesia sendiri, penggunaan obat klorokuin masih diberikan namun dengan beberapa pertimbangan untuk meminimalisir risikonya. Disebutkan juga bahwa pemberian klorokuin tidak menunjukkan efek samping seperti yang ditujukkan dalam studi tersebut.

Adapun pembatasan yang dimaksud antara lain:

- Pengawasan dengan EKG
- Tidak diberikan pada pasien dengan penyakit jantung
- Tidak disarankan untuk pasien rawat jalan
- Tidak diberikan pada pasien di atas usia 50 tahun
- Pada anak, diberikan pada kondisi khusus dan dengan pengawasan ketat

5. WHO Kembali Lanjutkan Studi Klorokuin

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sebelumnya menghentikan studi hidroksiklorokuin dalam kelompok Solidarity Trial akhirnya kembali melanjutkan riset obat tersebut. Belum diketahui secara pasti apakah keputusan ini terkait dengan ditariknya jurnal dari The Lancet tersebut.

"Sampai sekarang, tidak ada bukti bahwa obat apa pun benar-benar mengurangi kematian pada pasien yang memiliki COVID-19," Kepala Ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan, dikutip dari CNN.



Simak Video "Alasan WHO Minta Penggunaan Klorokuin untuk Pasien COVID-19 Disetop"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)