Jumat, 05 Jun 2020 19:00 WIB

Sempat Disetop WHO, Riset Klorokuin 'Obat Corona' Dilanjutkan Lagi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
ilustrasi minum obat Sempat disetop WHO, riset klorokuin obat Corona kini dilanjutkan lagi. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Klorokuin dan hidroksiklorokuin jadi kandidat obat bagi pasien virus Corona. Namun dalam perjalanan klinisnya, obat anti-malaria tersebut dianggap tidak memberikan efek yang dihadapkan kepada pasien COVID-19.

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang tersebar di seluruh dunia memperlihatkan adanya efek samping yang dialami pasien ketika diberi klorokuin atau hidroksiklorokuin, salah satunya gangguan irama jantung sehingga menyebabkan kefatalan pada pasien.

Namun belum lama ini salah satu studi yang diterbitkan dalam jurnal medis terkemuka, The Lancet, berjudul 'Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis' yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan risiko kematian pada pasien yang diberikan hidroksiklorokuin ditarik.

Adapun alasan penarikan jurnal ilmiah tersebut lantaran peninjau sejawat independen tidak dapat mengakses data yang digunakan untuk analisis sehingga validitasnya diragukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sebelumnya menghentikan studi hidroksiklorokuin dalam kelompok Solidarity Trial akhirnya kembali melanjutkan riset obat tersebut. Belum diketahui secara pasti apakah keputusan ini terkait dengan ditariknya jurnal dari The Lancet tersebut.

"Sampai sekarang, tidak ada bukti bahwa obat apa pun benar-benar mengurangi kematian pada pasien yang memiliki COVID-19," Kepala Ilmuwan WHO Dr Soumya Swaminathan, dikutip dari CNN.

Di Indonesia sendiri, riset hidroksiklorokuin dan klorokuin dihentikan sementara. Dalam surat edaran yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, pemberian kedua obat tersebut masih dilanjutkan namun dalam batasan tertentu.

Juga, disebutkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), dalam riset awal pada 500 pasien Corona di Indonesia, efek samping klorokuin yang disebut meningkatkan risiko kematian tidak terbukti.

"Hidroksiklorokuin dan klorokuin tidak terbukti meningkatkan risiko kematian. Artinya yg dapet atau tidak, risiko kematiannya sama. Memang ini belum final, tapi gambaran awal dari sekitar 500 pasien yang dikumpulkan seperti itu," ujar dr Agus kepada detikcom, Jumat (5/6/2020).



Simak Video "Alasan WHO Minta Penggunaan Klorokuin untuk Pasien COVID-19 Disetop"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)