Sabtu, 06 Jun 2020 14:21 WIB

Pemakaian Gas Air Mata Disebut Ahli Bisa Perparah Penyebaran Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Polisi AS dikerahkan untuk mangatasi aksi demonstrasi terkait kematian George Floyd. Gas air mata pun ditembakkan untuk membubarkan massa aksi. Gas air mata digunakan di tengah demonstrasi kematian George Floyd. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Belakangan ini banyak orang melakukan aksi protes terhadap kematian pria berkulit hitam, George Floyd, di Amerika Serikat. Pada beberapa kesempatan, polisi dilaporkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Terkait hal tersebut, sekitar 1.200 ahli penyakit infeksi menandatangani surat terbuka agar polisi menghentikan penggunaan gas air mata di tengah pandemi. Alasannya karena efek dari gas akan membuat orang-orang yang mungkin terinfeksi jadi lebih mudah menyebarkan virus Corona COVID-19.

Dr Peter Chin-Hong dari UC San Francisco menjelaskan ini karena orang-orang yang kena gas air mata akan terdorong untuk menyentuh wajah. Selain itu, gas air mata juga akan membuat orang jadi batuk-batuk, semakin mengiritasi saluran napas.

"Gas air mata didesain untuk membuat orang batuk-batuk. Sehingga virus bisa mudah menyebar lewat percikan liur yang keluar," kat Dr Peter seperti dikutip dari Huffington Post, Sabtu (6/6/2020).

Para ahli memberi catatan mereka mundukung aksi protes antirasisme yang dipicu kematian George Floyd. Namun demikian ada kekhawatiran timbulnya kasus 'super-spreader' bila orang-orang berkumpul tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Dr Peter menyarankan bagi yang turun dalam aksi protes untuk menjaga jarak dengan orang lain, memakai masker, dan sediakan hand sanitizer. Sementara polisi tidak menggunakan gas air mata dan menahan demonstran di ruangan yang sempit berdesakan.



Simak Video "Kata WHO soal Kerumunan Massa di Aksi Protes George Floyd"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)