Jumat, 12 Jun 2020 08:10 WIB

Studi: Peta Cuaca Bisa Prediksi Munculnya Kasus Corona di Wilayah Tertentu

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
masked girl to protect herself from wuhan virus in public area Studi klaim peta cuaca bisa prediksi munculnya virus Corona di wilayah tertentu. (Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/LewisTsePuiLung)
Jakarta -

Sebuah studi ilmiah baru menunjukkan peta cuaca bisa membantu memprediksi daerah mana yang selanjutnya akan dilanda gelombang virus Corona. Dari studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa daerah-daerah yang terkena dampak awal wabah.

Daerah-daerah tersebut berada pada garis lintang utara, seperti Wuhan di Asia, Paris di Eropa, dan Seattle di Amerika Serikat. Studi ini juga menunjukkan virus Corona berperilaku mirip dengan virus pernapasan musiman, seperti flu yang menyebar dengan cepat saat musim dingin dan semi.

Menurut tim peneliti di Fakultas Kedokteran Maryland University, peta ini bisa membantu ilmuwan lain untuk memprediksi kapan dan di mana wabah akan terjadi. Sehingga mereka bisa membuat kebijakan untuk mencegah virus itu semakin menyebar.

Untuk penelitian ini, mereka harus mengumpulkan data iklim dari 50 kota di seluruh dunia, antara Januari-Maret tahun ini. Delapan kota dengan penyebaran virus 'substansial', antara lain, Daegu di Korea Selatan, Spanyol, Milan di Italia, Paris di Prancis, Qom di Iran, Seattle di Amerika Serikat, Tokyo di Jepang, dan Wuhan di China.

'Substansial' ini didefinisikan sebagai negara yang melaporkan setidaknya 10 kematian akibat COVID-19 pada 10 Maret lalu. Dari November 2019 hingga Maret 2020, delapan kota ini semuanya berada di tepi lintang sempit antara 30 derajat LU dan 50 derajat LU.

Kemudian, mereka melihat dari suhu di permukaan bumi, tempat aktivitas manusia berlangsung. Hasilnya, di Wuhan pada Januari dan Februari lalu suhu rata-rata di stasiun cuaca bandara antara 4-9 derajat Celcius. Pada 20-30 hari sebelum kematian pertama di setiap kota sama, mulai dari 3-9 derajat Celcius dan kelembaban yang rendah.

"Suhu di delapan lokasi itu hanya berbeda tipis, dan itu mengejutkan. Saya tidak mengira begitu dekatnya rentang suhu dan kelembabannya," kata Dr Mohammad Sajadi, seorang profesor di Institut Virologi Manusia di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, yang dikutip dari The Sun, Jumat (12/6/2020).

Suhu dingin dan kelembaban yang rendah bisa mempengaruhi seberapa cepatnya virus berkembang biak di rongga hidung dan menyebabkan gangguan imunitas, hingga menyebar ke seluruh tubuh.

"Kami pikir virus ini seperti virus pernapasan musiman. Artinya, virus ini memiliki persyaratan suhu dan kelembaban yang berpengaruh dalam penularannya," jelasnya.



Simak Video "Mengapa Corona Masih Belum Berakhir? Ini Kata WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)